Kategori: Berita

Cara Berkabar dari Zaman ke Zaman

KALIAN kelompok milenial pasti mengenal istilah ping, mention, retweet, hashtag, dan lain-lain. Saat ini, berkirim kabar bisa kita lakukan setiap saat, setiap detik. Namun, pernahkah terbayang cara generasi terdahulu ingin mengetahui informasi dari kerabat yang lain? Saling bertukar informasi di era pradigital bisa berlangsung berhari-hari bahkan berhitung bulan.

Nah, cara berkomunikasi di masa ketika teknologi komunikasi dan informasi belum secanggih saat ini, bisa kita telusuri jejaknya di Museum Pos Indonesia. Sebelum kemudahan teknologi komunikasi berkembang pesat seperti sekarang, surat memiliki peran besar agar kita bisa saling mengirim pesan. Surat jelaslah tidak bisa berjalan sendiri, karena prosedurnya dilakukan di bawah naungan Pos Indonesia hingga surat surat yang kita kirimkan akan sampai pada orang yang kita tuju.

Persoalan surat-menyurat hingga koleksi ratusan perangko dapat kembali kita lihat dan rasakan ketika berkunjung ke Museum Pos Indonesia. Bahkan terdapat pula benda-benda pos lainnya seperti timbangan surat, sepeda pak pos jaman dulu hingga perkembangan baju dinas dan peralatan pos dari zaman kolonial hingga sekarang masih dapat kita lihat.

Museum Pos Indonesia terletak tepat di samping Gedung Sate yakni di Jalan Cilaki No. 73 Kota Bandung, Jawa Barat. Kaum muda harus menjadikan museum ini ada dalam list wajib kunjung. Selain tidak menarik biaya masuk, museum ini juga memiliki koleksi beragam seperti kotak pos dari masa ke masa, vending machine perangko zaman dahulu, hingga gambar-gambar yang menjelaskan bagaimana perangko dahulu dibuat. Juga, rangkaian foto yang menunjukkan bagaimana pembuatan perangko zaman dahulu. Koleksi menarik lainnya adalah surat emas yang merupakan surat darraja-raja di Nusantara kepada para Komandan dan Jendral Belanda kala itu.

Tiga jenis koleksi

Saat mengunjungi museum kita akan memasuki tiga kategori koleksi. Pertama, koleksi sejarah yakni seperti surat emas (golden letter) yang ditulis dengan bahasa daerah dan menggunakan berbagai media penulisan seperti daun lontar, nipah, kulit kayu, kertas bahkan emas. Koleksi ini dapat kita jumpai ketika mulai turun memasuki museum.

Lalu kita akan melihat koleksi filateli, yakni koleksi perangko dari berbagai belahan dunia. “Koleksi Prangko dari dalam negeri dan dari luar negeri juga kami sajikan” ujar Zamzam Zamakhsyary, salah satu staff Museum Pos Indonesia. Perangko-perangko tersebut tersusun rapi dalam bentuk album besar ataupun dalam vitrin[1] berdiri.

Kita dapat menjumpai perangko emas Soekarno, perangko dari berbagai tahun, hingga perangko-perangko yang paling baru dikeluarkan dan yang masih ada dan digunakan saat ini. Selain itu, ditampilkan pula penjelasan sejarah singkat perangko pertama The Penny Black dan sejarah surat menyurat dan perangko di Indonesia.

Kita juga dapat melihat salah satu koleksi tertua yang dimiliki Museum yang berada dalam kategori koleksi terakhir yakni, Peralatan. “Koleksi tertua disini adalah koleksi alat angkut pos atau gerobak angkut pos yang pernah dipergunakan di kantor pos Maluku pada tahun 1870,” ucap Zamzam. Terdapat pula peralatan lainnya seperti bis surat, timbangan paket, gerobak alat angkut pos yang dipamerkan secara lengkap dari masa ke masa, hingga perkembangan mesin hitung yang digunakan oleh kantor pos di beberapa zaman. Ada pula beberapa diorama yang menggambarkan kegiatan pos pada saat itu, seperti diorama Pos Keliling Desa yang lengkap dengan peralatan dan baju pak pos pada zaman tersebut.

 

Sejarah Gedung Museum

Museum ini bisa dibilang cukup tua usianya, bila mengingat bahwa museum ini berdiri bahkan sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.”Museum Pos berdiri pada tahun 1931 dengan nama museum PTT(Pos Telegraf dan Telepon) pada waktu itu koleksinya hanya sebatas prangko2 saja baik dari dalam Negeri ataupun luar negeri,” terang Zamzam. Museum ini di desain oleh dua arsitek dari Belanda J. Berger dan Leutdsgebouwdienst. Dan sayang terbilang sayang koleksi didalam museum sempat tidak terawat kala perpindahan kekuasaan Indonesia dari tangan Belanda ke Jepang yang akhirnya membuat museum ini terbangkalai untuk waktu yang cukup lama. Hingga pada tahun 1980 Perum Pos dan Giro akhirnya kembali memperbaiki dan merawat benda-benda koleksi museum. “pada tahun 1980 dibentuklah sebuah panitia untuk melakukan konservasi koleksi dan penambahan koleksi peralatan serta koleksi sejarah, hasil konservasi dan pengumpulan koleksi-koleksi lainnya disajikan di museum serta di pamerkan untuk umum,” terang Zamzam.

Bertepatan dengan hari bakti postel yg ke-38, yakni 27 September 1983 museum PTT berganti nama menjadi Museum Pos dan Giro, yang saat itu diresmikan oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi (Menparpostel), Ahmad Tahir. “Namun, seiring dengan perubahan setatus perusahaan yg awalnya perum menjadi PT maka otomatis terhitung tanggal 20 juni 1995 Museum Pos dan Giro berganti nama menjadi Museum Pos Indonesia sampai sekarang.”

Selain koleksi-koleksi musuem yang berusia tua dan mengandung nilai sejarah. Patut diketahui bahwa gedung meseum sendiri pun memiliki nilai sejarahnya tersendiri, terbilang berada dalam Gedung yang ikut melewati masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Indonesia. Rupanya, sejak awal didirikan hingga saat ini Museum Pos Indonesia tidak pernah berpindah tempat “Karena gedungnya memiliki sejarah tentang perjalan pos di Indonesia. Kedua, karena museum pos menempati salah satu ruangan dari gedung kantor pusat PT Pos Indonesia, museum dari awal berdiri memang bertempat di ruangan bawah tanah.” pungkas Zamzam.

 

*SF/FU/PS*

Petualangan Malam “Antarbenua” Di Kota Bandung

 

“Bumi Pasundan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum”, Kutipan dari M.A.W. Brouwer tersebut  dapat ditemukan di jalan Asia Afrika, terpampang besar seakan meyakinkan setiap yang membacanya jika Bandung lahir dengan sangat terberkati oleh Tuhan. Jalan Asia-Afrika seakan seperti manusia yang memiliki dua kepribadian. Ada hiruk pikuk kehidupan yang berbeda pada siang dan malam hari. Asia-Afrika, jalan yang menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia di era kolonial memang menyimpan banyak cerita. Gedung Merdeka yang berdiri kokoh, bangunan-bangunan heritage yang menjadi cagar budaya, hingga rentetan gedung peninggalan era belanda yang masih terawat sampai sekarang turut mewarnai cerita sejarah dari Jalan Asia-Afrika. Ya, saksi bisu sejarah itu lebih menyenangkan bila dilihat pada siang hari. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan memunculkan senja ke peraduan, kehidupan yang sebenarnya di sepanjang jalan Asia Afrika mulai terlihat.

Dinginya angin malam Kota Bandung yang menerpa di sepanjang Jalan Asia-Afrika selalu berhasil membuat siapa saja meremang, yang kebetulan melewat langsung merapatkan jaketnya dan melanjutkan perjalanan. Jangan dikira tidak ada kehidupan di Jalan Asia-Afrika pada malam hari. Justru menjelang malam, Asia Afrika menjadi lebih hidup dan berwarna bila dibandingkan dengan keadaannya ketika siang hari. Hiruk-pikuk warga kota bandung yang berlalu-lalang dengan kendaraan bermotor, menuju rumah tempat mereka beristirahat sehabis penat karena melakukan pekerjaan. Lalu, ada hilir mudik dari muda-mudi yang ingin menghabiskan sisa malam di Kota bandung juga turut mewarnai malam hari di Jalan Asia-Afrika. Tidak lupa, juga ada segelintir orang yang menggantungkan hidupnya untuk mencari pundi-pundi rupiah di Asia Afrika.

Pengamen-pengamen jalanan bernyanyi dengan penuh semangat untuk menjajakan suara mereka demi mendapatkan rupiah untuk sesuap nasi, ada juga yang hanya duduk diam sambil menadahkan tangan, menunggu rasa iba pengunjung yang lalu-lalang. Pedangang-pedagang asongan juga setia duduk menjaga dangangan mereka, siapa tau ada pengunjung yang tertarik membeli. Selain itu, lekukan-lekukan dibalik tembok bangunan juga dipakai sebagian orang sebagai tempat beristirahat mereka, melepas penat dan memejamkan mata. Untuk menyambut hari esok yang mungkin akan lebih keras dari hari ini.

Masih dalam tekat untuk mencari rupiah, sejumlah orang mulai sibuk merias diri, bersolek dengan baik nan dramatis untuk menarik perhatian pengunjung. Sebagian menyerupai hantu-hantu menyeramkan khas legenda nusantara, sementara yang lain menyerupai tokoh-tokoh favorit dari sebuah film. Pocong, kuntilanak, sundel bolong, buto ijo, hingga genderuwo adalah sosok yang pasti ditemui oleh pengunjung ketika melewati jalan Asia-Afrika. Tetapi tidak perlu risau, mereka bukanlah hantu sungguhan. Akan ada banyak jeritan ketakutan dari pengunjung yang berlalu lalang karena dijahili oleh hantu-hantu jalanan tersebut. Paling sering terlihat adalah cara mereka yang mengejutkan penunjung secara tiba-tiba, melambaikan tangan dari kejauhan, atau muncul dibelakang pengunjung tanpa sepengetahuan mereka. Namun, tidak perlu khawatir, karena sesungguhnya itu hanya sebuah usaha untuk menyambung hidup. Dari cara itulah mereka mendapatkan pundi-pundi rupiah. Bagi Anda yang kebetulan berkunjung dan ingin mengenang Bandung dengan unik, tidak ada salahnya untuk mencoba berfoto bersama hantu di jalan Asia Afrika.  Tidak ada harga khusus yang dipatok ketika ingin berfoto dengan para hantu, Anda bebas menentukan dan ditambah lagi mungkin ada akan mendapat bonus kelakar dari para hantu yang cukup menggelitik.

“Biasanya sampai jam berapa disini pak ?” tanya Mari, salah seorang pengunjung.

“Disini paling sampai jam 12 malam. Sehabis itu ganti personil, jadi hantu beneran.” Kelakar buto ijo yang sedang berdiri menunggu pengunjung yang ingin berswafoto dengan ia dan teman-temannya.

 

Puas berjalan-jalan melihat jenis-jenis hantu, bila perut mulai keroncongan tentunya anda tidak perlu khawatir. Terdapat aneka kuliner yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Tidak perlu ongkos lain, cukup rela berjalan kaki sedikit ke arah Jalan Cikapundung. Dari depan bisa terlihat ada banyak jajaran pedagang, mulai dari yang mengunakan gerobak kecil hingga tenda. Mulai dari makanan ringan, makanan berat, hingga minuman semuanya ada disana. Bosan dengan makanan lokal, masih ada banyak opsi jajanan atau makanan dari mancanegara. Anda tidak akan merogoh banyak kocek untuk membeli makanan di sini. Kisaran harga relatif terjangkau, mulai dari Rp5.000 sampai dengan Rp25.000.  Jika beruntung, Anda dapat menjumpai pedagang yang menjajakan makanannya sambil beratraksi.

Selain yang disebutkan diatas, pengunjung juga dapat melakukan wisata religi di daerah ini. Puas berjalan-jalan di kawasan Asia-Afrika, Masjid Agung Kota Bandung dapat menjadi pilihan tepat untuk melepas lelah. Hanya berjalan lurus sekitar 30 meter kedepan dari arah jalan Asia-Afrika, Anda bisa melihat Masjid Agung Kota Bandung yang berdiri kokoh, terlihat indah dengan gemerlap lampu dan menaranya yang menjulang tinggi. Anda juga akan disambut dengan keindahan arsitektur dan desain interior Masjid Agung Kota Bandung. Masjid yang diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1812 ini selain digunakan sebagai tempat beribadah juga dipakai sebagai pusat kegiatan agama lainnya seperti dakwah, kajian, hingga peringatan hari besar Islam.

Meski malam makin larut, tak perlu khawatir tentang bagaimana cara untuk kembali pulang. Bagi Anda yang tidak membawa transportasi pribadi atau berpetualang sendirian, akan banyak Anda jumpai para driver transportasi online di halte Alun-Alun. Sambil menunggu jemputan pulang, sejenak Anda bisa menatap jalan Asia-Afrika. Lampu-lampu jalan, bangku di sepanjang trotoar, bangunan heritage, hantu-hantu cosplayer, jajanan enak dan murah, ketenangan di dalam masjid, dan rasanya udara malam Bandung yang kian menusuk melengkapi ingatan Anda tentang petualangan antarbenua Asia-Afrika.

*R/NR*

Film Pendek Mahasiswa IKOM UPI di Pertontonkan

Selasa (18/12/2019) Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia gelar screening atau pemutaran film di ruang audio visual musium Universitas Pendidikan Indonesia. Pemutaran film ini diselenggarakan oleh mahasiswa peminatan broadcasting yang merupakan rangkaian kegiatan perkuliahan di matakuliah penyutradaraan. Seluruh film yang ditayangan pun merupakan karya mahasiswa peminatan broadcasting. terdapat 3 judul film yang diputar dalam kegiatan ini diantaranya “Siapa ?, Lantai 13, dan Fiksi Terindah”. 

 

 

 

 

 

Seluruh film yang ditayangkan merupakan film bisu (film tanpa dialog) dengan durasi pendek. Film Siapa ? merupakan film bergenre Thriler yang menceritakan tentang seorang anak sekolah yang akan ditikam oleh seorang wanita yang wajah dan perawakannya mirip dengan ibunya. Lantai 13 Merupakan film bergenre Horor, dimana menceritakan seorang mahasiswa yang terjebak di lantai 13. Fiksi terindah merupakan film bergenre romance yang menceritakan tentang seorang wanita yang memiliki obsesi cinta terhadap lelaki yang di pujanya.

Kegiatan ini terbuka untuk umum, sehingga siapapun boleh menyaksikan film yang ditayangkan secara gratis. Kegiatan ini dibagi kedalam dua sesi, sesi I dimulai pada pukul 09.00-11.00, Sesi II dimulai pada pukul 13.00-14.30. Dalam rangkaian acara tersebut, terdapat juga sesi tanya jawab antara tim produksi dengan penonton. Pada sesi tanya jawab hampir seluruh kaya mahasiswa diapresiasi dan diberi komentar oleh penonton yang hadir. “Karena banyak yang antusias dan pengen nonton kita buka sesi ke 3 yang sebenernya ngga ada di acara” ungkap Ica salah satu panitia saat akan membuka sesi ke III.

 

 

 

 

 

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Dr. Ridwan Effendi, M.Ed (ketua departemen), Dr. A Fahrul Muchtar A, M.Si (Sekretaris Departemen), dan juga dosen Ilmu Komunikasi UPI Vidi Sukmayadi M.Si, Aly Mecca, M.Hum. Sejak awal hingga berakhirnya pemutaran film, kegiatan berjalan berjalan dengan lancar tanpa kendala.

 

Sebuah Kisah Asin Manis Supir Damri

 

Pak Sofian bersama mobil damri yang sudah menemaninya dalam mengecapi asin manisnya kehidupan di jalan raya.

 

Senyuman merupakan salah satu bentuk dari ibadah yang paling mudah dilakukan, seperti kata pepatah  “senyum itu ibadah”. Ya, memang benar bahwa senyuman mampu meluluhkan segalanya,seperti yang tersirat dari raut seorang pria yang berumur lebih dari setengah abad, Pak Haji adalah panggilan dari rekan rekannya untuk menggambarkan sosok Ahmad Sofian yang terkenal religius dan ramah terhadap setiap orang. Pria kelahiran Jakarta, 26 Januari 1968 ini berprofesi sebagai supir damri . Sudah puluhan tahun profesi ini dijalaninya, namun dengan hati ikhlas beliau tetap menggeluti profesinya dengan sepenuh hati.

“Sebenarnya kalo pekerjaan dilaksanakan dengan ikhlas dan enjoy tidak ada masalah meskipun kita jadi sopir atau kondektur atau pekerjaan lainnya ringan aja enjoy” ujar Pak Haji.

1988 menjadi tahun dimana ia mulai menggeluti profesi yang berkaitan dengan damri, pada tahun ini Pak Haji mengawali karirnya sebagai kondektur lalu 17 tahun terakhir berubah haluan menjadi seorang sopir. 32 tahun tentunya bukan waktu yang sebentar dan pastinya banyak sekali pengalaman yang mewarnai perjalanan karirnya. Perhatian dari para penumpang ,seperti memberi minum lalu sekedar memberi permen sudah sangat membahagiakan ditambah lagi senyum,canda dan tawa yang diperlihatkan oleh penumpang menjadi semangat untuk Pak Haji dalam menjalani profesinya sehari hari. “kalo lagi narik terus liat penumpang matanya keliatan kalo mereka bahagia bapak jadi suka inget keluarga apalagi sama anak di rumah” ujar Pak Haji dengan raut wajahnya yang sumringah.

“kalo kita ikhlas mah yang dirasa berat juga gak akan kerasa dek” . Senyuman dan keikhlasan merupakan kombinasi yang cocok untuk menciptakan mantra sihir untuk menumbuhkan semangat ditengah kalutnya rutinitas sehari hari. Pernah suatu kali Pak Haji mengalami peristuwa yang kurang mengenakan antar sesama sopir sampai hampir terjadi perkelahian , namun Pak Haji juga tidak terlalu meladeni hal tersebut . “pernah ada insiden dengan supir lain sama angkutan lain. Terus sampai ngotot ngajak gelut, tapi ya gausah diladeni cukup senyum aja yang penting kita mah lancar jalan yang penting kita mah kerja” . Api harus dibalas dengan air agar padam, jika api dibalas dengan api maka akan bertambah besar. Kira kira seperti inilah gambaran sikap yang ditunjukan oleh Pak Haji dalam mengatasi insiden tersebut, banyak hikmah yang bisa kita peroleh dan contoh dari sikapnya dalam tetap sabar dalam mengahapi sebuah permasalahan.

Keluarga adalah hal yang paling utama, keluarga adalah yang nomer satu, keluarga adalah rumah tempat kita berteduh dan keluarga merupakan harta yang paling berharga. Semua perasaan sedih dan senang kita lalui bersama keluarga. Tidak terkecuali Pak Haji, ia mengorbankan waktunya bersama keluarga demi bisa menafkahi dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Kerja jadi supir damri kadang-kadang suka ninggalin anak kerja pagi-pagi banget gabisa main dulu sama anak yang paling kecil terus pas saya pulang anak sudah tidur. Sedih kadang, tapi ya namanya juga kerja cari uang buat anak istri. Tapi liat anak istri bisa makan layak juga alhamdulillah cape saya terbayarkan lah ya istilahnya” ujar Pak Haji sembari sedikit menundukan pandangannya.

Tidak jauh berbeda, Pak Roni juga menceritakan segelintir pengalamannya sebagai Time Keeper atau Timer. Pria kelahiran Garut tanggal 2 Maret 1959 itu mengatakan bahwa kunci dari semangatnya adalah ikhlas dan sabar. Berbeda dengan Pak Haji yang murah senyum, Pak Roni tampak lebih sedikit tersenyum dan sikapnya terlihat lebih tegas. Namun saat berbicara dan mengobrol ,sikap ramahnya terlihat.

Timer sendiri berbeda dengan sopir, timer itu bertugas untuk mengatur interval berangkatnya satu bus damri dengan bus lainnya agar jadwal berjalan sesuai dengan semestinya.Pak Roni sendiri baru menggeluti profesi sebagai timer ini sejak 2 tahun yang lalu karena pada awalnya ia berprofesi sebagai kondektur bus. Pak Roni sendiri sangat menikmati pekerjaannya sebagai timer, karena ia bisa bekerja sambil bersantai di warung kopi andalannya. Lebih lama bekerja sebagai kondektur bus , membuat Pak Roni kadang merasa rindu akan pekerjaan terdahulunya. “Kalo jadi kondektur teh senengnya tiap hari ketemu orang orang baru gitu, walaupun gakenal sama orang orang itu tapi liatnya seneng aja, gak tau kenapa, kadang mah suka pengen lagi balik jadi kondektur” ujar Pak Roni. Tidak pernah sekalipun terbesit di pikiran Pak Roni untuk meninggalkan pekerjaan ini karena ia sendiri sudah merasa bahwa damri itu merupakan bagian di dalam hidupnya . Tampangnya yang sedikit garang tidak mampu menutupi raut wajahnya yang sumringah ketika berbicara dan berbagi cerita tentang pekerjaannya. Sembari menghisap sebatang rokok , ia kemudian menceritakan pengalamannya saat sedang bertugas. “banyak sih dek kejadian yang lucu gitu misalnya bus gak sampe ke tujuan pantesan ditungguin gaada ,terus ada bus nya yang supirnya kecapean terus penumpangnya di over ke bus belakang, menurut saya itu kaya cukup konyol gitu , banyaklah kejadian kejadian kaya gitu mah”.

Satu senyum yang hangat itu berarti seperti seribu kebaikan , hal itulah yang patut dicontoh dari sikap Pak Haji yang selalu menebar impresi yang baik kepada semua orang . Kita juga bisa mencontoh sikap dari Pak Roni yang terlihat tegas diluarnya  namun sangat ramah. Kedua orang tersebut mengajarkan kita bahwa ternyata hal kecil bisa membawa dampak yang besar seperti keikhlasan yang membuat mereka tetap semangat untuk menjalani aktivitasnya sehari hari.

 

*SM/RP*

Skateboarding: Roda Mungil yang Terus Berputar

Sumber: Dok. Pribadi
Potret seorang pria yang sedang fokus menentukan trik selanjutnya untuk diulik.

“Karena skateboard itu nggak melulu tentang bad attitude, banyak hal yang bisa kita pelajari. Seperti tertantang untuk tidak pulang sebelum triknya ke-ulik” Ujar Rensyid, seorang skateboarder berpengalaman dengan dedikasi yang tinggi.

Dunia skateboard akan selalu tampak seperti sekumpulan remaja naif yang hanya tahu bahwa kebebasan itu sesederhana bisa melompati traffic cone kapan pun mereka mau. Tak masalah membuat peraturan, tak masalah membatasi keinginan, yang menjadi masalah adalah ketika hak bermain mereka diambil hanya karena keuntungan semata.

Terhalang oleh lalu-lalang kendaraan modern dan berada tepat dibawah jalan layang Pasupati, disanalah berdiri komunitas yang layak diperhitungkan. Tanpa paksaan dan tanpa kepalsuan, mereka menikmati waktu mereka dengan sepenuh hati. Seolah hanya di tempat itu mereka bisa merasakan kebebasan yang telah dibatasi sedemikian rupa.

Keterbatasan lahan dan stigma masyarakat tidak melunturkan semangat mereka dalam memberikan kesempatan bagi orang yang memiliki ketertarikan yang sama untuk menjadi diri mereka sendiri. Bersatu atas nama Pasopati Skateboarding Club, mereka mampu bangkit dengan solidaritas baru. Caranya cukup sederhana, hanya memberikan penerimaan di lingkungan penuh penolakan. Meski hanya bermodalkan tempat yang berasal dari dana hibah pemerintah Kota Bandung, komunitas ini mampu membangkitkan minat para skateboarder untuk kembali “pulang”. Mengasah kemampuan mereka tanpa perasaan ragu ataupun takut.

Senada dengan penggambaran di atas, Rensyid membenarkan bahwa semangat mengendarai papan seluncur beroda empat itu makin hari kian meningkat. Pemuda asal Surabaya itu juga mengungkapkan bahwa jumlah anggota yang tergabung dalam komunitas tersebut sudah terlalu banyak sampai tak terhitung lagi.

“Waduh kalau dihitung banyak banget ya. Kalau di sini sebenarnya gak di, kayak dicatat ini berapa berapa nya. Jadi data komplit nya nggak ada, karena di sini free semuanya main. Bisa mereka. Semua umur dan untuk umum juga”  Ujar pria yang sudah akrab dengan skateboard sejak tahun 2005 tersebut.

Dengan sifat komunitasnya sendiri yang terbuka, siapapun boleh ikut bermain. Mengulik dan berlatih trik-trik skateboard bersama. Selain itu, ikatan yang kuat diantara mereka mampu menumbuhkan rasa kepemilikan atas Pasopati Skatepark itu sendiri. Tanpa bantuan dari pihak diluar komunitasnya, mereka memelihara fasilitas yang ada. Artinya, patungan pun tak terhindarkan sebagai ganti biaya pemeliharaan untuk tempat mereka melepas jenuh dan bersenda gurau dengan “keluarga” mereka.

Kegiatan di Pasopati Skateboarding Club tidak berhenti sampai di latihan saja. Lebih jauh, komunitas ini juga mampu mengadakan banyak acara besar. Dalam hal ini, mereka ditemani oleh komunitas Bandung Skateboarder. Sebuah kumpulan  besar yang mencakup beberapa komunitas terperenci seperti mereka.

Perpaduan komunitas yang sejenis ini sukses mengadakan acara bertajuk skateboard. Biasanya, mereka memadupadankannya dengan musik. Mulai dari launching skatepark, pertunjukan trik, hingga lomba foto dan video. Biasanya diselingi oleh pertunjukan musik yang bergenre alternative rock.

Meski demikian, fakta bahwa komunitas jalanan tidak pernah bisa lepas dari pandangan buruk masyarakat juga dialami oleh komunitas ini. Banyak masyarakat yang memandang mereka tak lebih dari sekedar aktivitas jalanan. Perkumpulan yang tidak lebih baik dari anak berandalan. Padahal, lebih daripada itu Rensyid menuturkan bahwa hal-hal seperti itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan skateboard. Semua itu tergantung pada pribadi masing-masing skateboarder-nya dan apa alasan mereka untuk bermain skateboard.

“Skateboard itu sebenernya olahraga yang menyenangkan, jadi attitudenya mau dibawa kemana nih? Jangan disamaratain lah kalo skateboard itu anak yang jelek gitu, karena kebanyakan juga bagus-bagus gitu kan.” Tegas Rensyid.

Selain pandangan masyarakat, perjuangan komunitas ini untuk sampai ke titik dimana mereka bebas menyalurkan minatnya juga terkendala oleh masalah regulasi. Beberapa tahun kebelakang, sempat beredar isu larangan bermain skateboard di tempat umum. Lahan luas yang menjadi modal utama mereka bermain, perlahan dipersempit oleh regulasi yang ada. Membuat perkembangan olahraga ini cukup terhambat. Kini, tempat yang menjadi markas utama para skateboarder adalah Pasupati Skatepark dan North Skatepark Lembang.

Mewakili skateboarder lainnya, Rensyid berharap selain pemberian lahan, pemerintah juga mulai memperhatikan bahwa skateboarding sekarang patut diperhitungkan.  Sudah banyak skateboarder Indonesia yang mengikuti ajang internasional dan menjuarainya. Namun, tidak banyak yang tau soal ini dikarenakan minimnya publikasi.

Berbekal harapan tadi, Pasopati Skateboarding  Club mengajak mereka yang tertarik pada skateboarding untuk ikut menyalurkan minatnya di Pasupati Skatepark. Yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas skateboarder saat ini.

Pengantar Jenazah dan Aksi Kemanusiaan

 

Tandu, sirine, dan lateks menjadi teman di setiap ia menjalani aktivitas pekerjaannya. Menolong didasari kemanusiaan sejatinya menjadi kegiatan yang sangat mulia bagi insan yang menjalaninya. walaupun begitu, tuntutan kehidupan beserta rupiah menjadi alasan mengapa ia selalu menekuni bidang pekerjaanya. Beben merupakan seorang pengemudi mobil jenazah di salah satu rumah sakit yang terkenal di kawasan Jawa Barat tepatnya Kota Bandung. Tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat awam memang, seseorang memilih pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh masyarakat lainnya. Beben pria asli kelahiran  Cilacap, Jawa Tengah ini banyak mendapatkan pengalaman unik. Jalanan Medan hingga Madura sudah ia lewati. Berbagai kisah mistis telah menjadi makanan setiap ia menjalankan tugasnya. Tak aneh memang, dengan kata jenazah pun kita mampu mengartikan bagaimana sulit dan mengerikannya harus berhadapan langsung dengan sosok yang tidak bernyawa.

Tak pernah terbayangkan oleh Beben mengapa ia harus menjadi seorang pengemudi mobil jenazah. Untuk menyentuh jenazah saja memerlukan keberanian dan keikhlaskan hati karena menghadapi jasad tak bernyawa. Awal mula Beben bertugas, Beben harus menerima kenyataan bahwa jasad tak bernyawalah yang telah ia sentuh. Seminggu telah berlalu, jari jemari Beben masih merasakan hawa dari jasad tak bernyawa yang ia sentuh.

Di tengah menjalani kesibukan kerjanya, Beben tidak mendapatkan upah sedikitpun di setiap bulannya, ia hanya mengharapkan balasan dari sanak keluarga yang telah ia tolong untuk mengantarkan jasadnya. “Sebenarnya gak ada dines, paling pulang 2 minggu sekali, gimana dapet uangnya aja, kan saya ga dapat gaji karena uangnya dari yayasan, beda dengan palang merah” ujar beben dengan raut muka memelas. Sedih memang, dengan segala resiko atas pekerjaan yang ia tekuni, ia tidak mendapatkan uang sepeserpun atas jerih apa yang ia telah lakoni dalam pekerjaannya. Namun ia tetap tabah dan terus menjalani aktifitas pekerjaanya, karena di dalam benaknya setiap pekerjaan yang di dasari atas dasar kemanusiaan akan di balas oleh seseorang yang mempunyai mukjizat dan sudah mengatur rezeki setiap umatnya.

Pengalaman-pengalaman yang dialami oleh Beben, tentunya tidak pernah dialami oleh seluruh masyarakat Indonesia, kecuali teman se-profesi yang bernasib sama seperti beben yaitu menjadi pengemudi supir jenazah. “Jadi ada motor 3, nyalip 2 mah lolos, tapi yang celaka itu gakeburu jadi nyenggol masuk mobil aqua, ya kan ini bolong sampe itunya keluar, si cewe dadanya belah, terus organ dalemnya keluar kemana mana” ujar beben. Mendengar tragedi nya pun kita merasakan kengerian tersendiri, yang mana seorang manusia mengalami kecelakaan, ditambah organ yang selama ini kita lihat hanya melalui ilustrasi gambar, kini ia menyaksikan hal itu secara langsung. “Engga da udah tugasnya sih, terus sicewe tangan kirinya potong, jadi dua ajah gituh badannya ngebelah” kata beben. Dalam hal ini kita ketahui bahwa ia tidak hanya mengemudi, tapi ia mempunyai tanggung jawab untuk melakukan evakuasi korban, dan mengantarkannya ke pada pihak yang mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penyelidikan terhadap identitas atau jasad korban.

 

Berhadapan dengan jasad tak bernyawa sudah menjadi keseharian Beben. Tak hanya menangani jasad yang baru saja meninggal, Beben pun pernah menangani jasad yang seminggu baru diketahui meninggal. Seorang kakek yang tinggal sendirian di sebuah rumah diketahui telah meninggal setelah seminggu berlalu. Bau busuk yang menyengat memberi tanda kepada siapapun yang melewati rumah tersebut bahwa ada jasad yang telah membusuk. Beben yang memang berprofesi sebagai pengemudi mobil jenazah mendapatkan tugas harus menangani jasad kakek. Dengan berbekal masker, sarung tangan lateks, keberanian, dan sebungkus kopi, Bebeb memberanikan diri menangani jenazah kakek. Sebungkus kopi yang ia bawa, ia taburkan di sekeliling jasad kakek yang telah membusuk dengan maksud agar bau busuk tak terlalu menyengat.

 

Hingga saat ini, Beben masih setia dengan profesinya sebagai pengemudi mobil jenazah. Meski hanya mendapat upah yang tak menentu, tak mengubah pendirian Beben untuk tetap melanjutkan profesi ini. Berlandaskan niat tulus yang tertanam di palung hati yang terdalam, Beben yakin rezekinya telah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Beben pun mengatakan ia tak lagi menganggap pekerjaan ini sebagai sebuah profesi. Beben sudah menyebut profesinya sebagai hobi yang menyenangkan. Melihat keluarga almarhum yang bisa tersenyum dan mengucapkan kata “Terimakasih” sudah membuat Beben turut bahagia dapat membantu. Hal tersebut yang selalu ditanamkan Beben dalam menjalani profesinya. Beben sadar bahwa ia tak bisa membantu dengan harta, namun ia hanya bisa membantu dengan tenaga agar keluarga dan almarhum dapat bahagia.

 

*S.H/L.R*

Halo-Halo Braga: Menilik Sudut Eropa Di Bumi Pasundan

Semburat mentari sore yang masuk melalui cela pohon dan jendela toko-toko antik menambah kesan estetik tidak kala menyinari lukisan yang berada disepanjang jalan yang menjadi kecintaan setiap pelancong saat singgah ke kota Bandung. Hingga saat ini suasana tempo dulu masih dapat dirasakan ketika melintas di sepanjang jalan yang terbuat dari batu andesit dan kedua sisi trotoar yang bermaterialkan batu granit itu. Bangunan bernuansa Belanda hingga kini masih berdiri kokoh menghiasi jalan yang dahulu disebut jalan Pedati tersebut. Sepanjang jalan dipenuhi dengan toko-toko, cafe, coffee shop, mall dan yang paling menjadi daya tarik tentunya banyaknya spot foto estetik yang membuat destinasi di jalan Braga menjadi sebuah sajian paket komplit bagi seluruh pelancong yang berkunjung.

Semua keindahan itu akan sangat menyenangkan dan seru jika dinikmati dengan berjalan kaki. Pelancong dapat menikmati sudut demi sudut yang ada dan mengabadikan setiap momen yang dibuat. Kesan tempo dulu yang dirasakan ketika melintas di jalan braga pada siang hari akan tergantikan menjadi kesan gemerlap ketika malam hari tiba. Lampu-lampu dari toko, cafe dan bar yang sudah menunjukan aktivitasnya mulai menyala layaknya kunang-kunang yang datang menyerbu kegelapan.

Jika ingin merasakan nuansa vintage (baca: zaman dulu), tidak lengkap apabila tidak mengunjungi salah satu cafe sekaligus toko roti yang telah mencatatkan sejarah sebagai salah satu toko roti tertua di kota Bandung, yakni Toko Roti Sumber hidangan. Toko Roti bersejarah itu telah berdiri sejak tahun 1929 tepatnya pada masa kolonial Belanda. Dahulu, toko ini bernama Het Snoephuis (Rumah Permen). Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke dalam Toko Roti Sumber Hidangan, kita seakan-akan melalui lorong waktu dan pergi ke masa tahun 1920-1940, ditambah kehadiran dua orang pelayan yang menyambut dengan hangat semakin menambah suasana ramah ketika berkunjung. Tidak ada yang berubah dari segi dekorasi, kursi, meja, timbangan kue yang masih sama sejak toko ini pertama didirikan. Etalase kayu coklat berisi jajaran kue yang tidak lekang dimakan umur, besi-besi kursi yang masih kokoh dan penamaan kue yang masih menggunakan bahasa Belanda menambah kesan orisinil dari toko roti itu.

Tidak hanya menjual roti, sesuai dengan namanya ‘Het Snoephuis’ toko ini menjual aneka cemilan manis seperti kue kering dan dessert. Dengan harga yang pas, anda tidak usah khawatir untuk sekedar mencicipi roti Sumber Hidangan yang khas. Cukup merogoh kocek sekitar 5 ribu – 15 ribu untuk menikmati roti, dan  harga 11- 95 ribu untuk menikmati sajian kue kering khas Toko Roti Sumber Hidangan. Namun sayangnya, Toko Roti Sumber Hidangan hanya beroperasi pada pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore. Waktu yang cocok untuk mengunjungi Toko Roti Sumber Hidangan adalah pukul 3 sore hari. Momen ini pas untuk sekadar menikmati indahnya jalanan Braga di sore hari dan menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk kemacetan di Kota Bandung.

Sembari menikmati keindahan Braga, kami mewawancarai Denisa (17)  seorang remaja Kota Bandung yang tengah mengambil foto di salah satu depot eskrim di sisi kiri jalan Braga. Menurutnya sebagai warga Bandung dan pelajar SMK, jalan Braga cocok untuk dijadikan tempat berjalan dan berfoto ria untuk kemudian diunggah di akun Instagram. “Kalau menurut aku sih Braga tuh enak aja ya buat jalan bareng temen dan foto-foto gitu. Apalagi banyak tempat Instagramable dan lumayan untuk diunggah ke Instagram.”  Ujarnya.

Selain Denisa , kami pun mewawancarai Zaki (23) pemuda asal Subang yang sedang berjalan dan sesekali menggambil foto jalanan Braga di malam hari. Menurutnya sebagai warga kota Subang, jalan Braga dapat dijadikan destinasi yang cocok untuk sekedar melepas penat di Kota Bandung. Hampir setiap bulan ia menyambangi Kota Bandung bersama sanak saudaranya. “Kalo saya disini berbicara sebagai warga desa yang penat memilih ke Bandung pastinya setiap bulan sama sodara. Karena kota yang paling dekat dari Subang ya Bandung. Salah satu destinasi favorit Braga sih.” Ujarnya. Masih menurut Zaki, Braga memiliki kekhasan tersendiri terutama pada segi arsitektur dan nuansa vintagenya. Hal inilah yang membuat pengunjung semakin tertarik untuk datang ke jalan Braga “Braga punya ciri khas menurut saya, suasananya jaman dulu banget dan itu yang buat pengunjung lainnya tertarik untuk datang kesini mungkin.” Jawab Zaki dengan ramah.

Seperti yang kita ketahui, jalanan Braga terkenal dengan wisata fotografinya di siang hari. Rupanya ketika malam hari menjelang, pengunjung yang berfoto ria menikmati suasana malam jalanan Braga pun tidak sedikit. Mulai dari sekadar mengabadikan jalanan braga di malam hari sampai mengambil latar pre-wedding tidak jarang dilakukan disekitaran jalan tersebut. Hal ini tidak jauh dari keindahan suasana dan bangunan jalan braga yang dikenal memiliki kesan arsitektur vintage nan antik dan menambah kesan estetik untuk untuk diabadikan.

 

*I.P/N.S*

Para Srikandi Penakluk Si Jago Merah

Sumber: Dokumentasi Mojang Damkar Bandung

BAGAI mencari jarum di tumpukan jerami. Barangkali, peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan 31 perempuan luar biasa anggota Pusat Mojang Damkar kota Bandung. Dalam benak banyak orang, profesi penantang api lebih banyak ditekuni oleh kaum adam. Secara naluriah, kaum adam mempunyai keberanian untuk mengambil risiko yang sangat tinggi dalam memadamkan si jago merah.

Namun, stereotipe ini dipatahkan oleh perempuan-perempuan tangguh dan mempunyai keberanian yang melebihi perempuan lain pada umumnya. Pasukan Mojang Damkar asal Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DKPB) Kota Bandung membuat banyak masyarakat terkagum.

Memadamkan si jago merah, melakukan pendinginan pasca kebakaran, melakukan pertolongan pertama pada korban, menyelamatkan korban yang terjebak si jago merah dan membawa kendaraan pemadam kebakaran dengan kecepatan yang tinggi tentu bukan hal yang asing bagi pasukan Mojang Damkar. Mereka tidak menjadi pengecualian hanya karena mereka perempuan, mereka juga seringkali ambil andil dalam setiap kebakaaran yang terjadi di Kota Bandung.

Melihat si jago merah sedang membara merupakan hal yang jarang ditemui oleh pasukan Mojang Damkar untuk sekarang-sekarang ini. Mereka berkata bahwa, “Kalau sekarang, masyarakat lebih mengetahui bagaimana melakukan pemadaman api karena penyuluhan-penyuluhan yang telah diberikan oleh kami juga. Jadi, sekarang kami kalau sampai di lokasi, biasanya tinggal melakukan pendinginan saja,” ujar salah satu pasukan Mojang Damkar.

Sumber: Dokumentasi Mojang Damkar Bandung

 

Mojang Damkar sendiri terbagi ke dalam beberapa divisi seperti divisi pemadam, rescue dan pengemudi. Salah satu pemadan yang bernama Ratika, perempuan asal Bandung, dan masih berumur 35 tahun ini sudah menjadi pasukan Mojang Damkar selama 13 tahun lamanya. Banyak pengalaman yang sudah dilewati oleh perempuan ini, tapi ada satu peristiwa yang tak akan pernah hilang dari benak Ratika, “Kita kehilangan dua rekan kita saat bertugas memadamkan api waktu di Ujung Berung, Sukaasih,” ucap Tika –panggilan akrabnya. “Kejadiannya sekitar dua tahun lalu, tetapi hal tersebut sangat berbekas bagi kita, sampai di abadikan di aula kita sangking dikenangnya,” tambah Tika kemudian.

Menjadi Mojang Damkar, tentunya ada beberapa risiko tersendiri. Diantaranya fakta bahwa perempuan lebih mengingat peristiwa sedih dan cenderung lebih susah sembuh dari trauma membuat Ratika dan pasukannya kesulitan dalam bertugas semenjak kehilangan kedua rekannya. Ratika sendiri berkata bahwa dirinya sempat menolak beberapa kali tugas kebakaran lantaran masih terbayang bagaimana kedua rekannya tewas karena si jago merah.

Menjadi seorang pemadam kebakaran, pastilah mempunyai banyak sekali risiko dalam bekerja terutama dikala sedang menghadapi si jago merah. Alasan pribadi Ratika dan pasukan memilih untuk menggeluti profesi ini sebagai perempuan adalah unsur kemanusiaan. Disamping bekerja memadamkan api, menyelamatkan orang lain, dan membawa mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke lokasi, mereka menganggap bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang bisa menolong orang banyak.

Bekerja sebagai pasukan Mojang Damkar tentunya dibutuhkan kekompakan tim karena kebersamaan yang sangat dijunjung di dalam DKPB, ibarat kata jikalau memadamkan si jago merah hanya dengan satu orang atau sendiri-sendiri, padamnya akan lama. Namun, apabila melakukan pemadaman api bersama-sama, maka pemadamannya akan lebih cepat. Kalau ada salah satu rekan yang egois, bisa saja timnya menjadi hancur dan tidak bisa bekerja sama dengan baik kembali.

Perempuan yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran memang masih tabu di kaca mata masyarakat, karena profesi ini memiliki banyak sekali risiko dan kemungkinan-kemungkinan yang negatif. Namun, terlepas dari segala risiko dan kemungkinan tersebut, Mojang Damkar Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung tetap setia terhadap profesi ini dan siap menolong masyarakat melawan si jago merah.

 

*B.B/R.A.M.P.G*

Jalan Setapa di Cibadak, Surga Kuliner Mmalam yang Merakyat

Kota Bandung alias kota kembang memang tidak pernah kehabisan ruang untuk dijadikan tempat berwisata bagi para pelancong. Seperti yang kita ketahui, Kota Bandung memiliki banyak sekali sudut-sudut unik nan nyentrik yang bisa dijadikan destinasi berkunjung bagi siapapun yang ingin memanjakan diri. Sebut saja daerah kawasan jalan Braga dan Asia-Afrika yang tidak pernah seharipun kehabisan pengunjung. Jalan braga dengan keunikan bangunan dan keberagaman gaya hidup yang disajikan, mampu menarik perhatian siapapun untuk menyambangi tiap-tiap ruas jalanannya. Tak jauh dari braga, Asia-afrika di malam hari juga memiliki daya tariknya sendiri. Hal unik tak kalah menarik di kawasan sepanjang jalan Asia-Afrika adalah kehidupan malamnya yang mampu menciptakan suasana magis penuh misteri. Tentu saja karena adanya cosplay hantu paling kreatif  di Bandung yang menjadi icon paling ciamik di kawasan ini.

Lain halnya dengan kehidupan malam di Braga dan Asia afrika, bagi para pelancong yang ingin menghabiskan waktunya untuk menyantap aneka ragam masakan di malam hari, Cibadak Culinary Night dapat menjadi pilihan utama. Dinamakan Cibadak tentu saja karena lokasinya yang berada di sepanjang Jalan Cibadak. Cibadak Culinary Night terkenal akan keberagaman masakannya yang menawarkan suasana kuliner terbuka serta merakyat.

Dalam rembang senja ketika kami mengunjungi tempat tersebut, kami disuguhi pemandangan tak biasa yang menghiasi ruas-ruas jalanan daerah ini. Saat sampai, penglihatan kami dimanjakan oleh puluhan bahkan ratusan lampu-lampu kecil penuh warna yang menggantung di udara, membuat hati siapapun terkesima olehnya. Wisata kuliner malam ini bukan hanya sekadar wisata malam biasa. Kami dibuat terkesima oleh tatanan tempat yang lazimnya hanya tempat perdagangan makanan biasa. Tentu bukan Bandung namanya jika tidak bisa menyulap suatu tempat menjadi sesuatu yang unik dan anti monoton, sekalipun hanya tempat makan dan singgah sementara. Hati siapapun akan senang tatkala disambut oleh indahnya lampu-lambu pelangi yang menghiasi langit malam. Senja pun berlalu, kami terus menelusuri tiap sudut jalanan untuk menilik lebih jauh apa saja yang membuat tempat ini begitu berkesan di hati setiap pengunjung.

Jalan cibadak boleh jadi hanya sekadar jalanan biasa di siang hari. Namun saat matahari mulai terbenam dan langit mulai menunjukkan gelapnya, ruas-ruas jalanan akan segera dipenuhi pedagang kaki empat dan resto murah tak kalah sedap. Siapa sangka, jajanan rakyat ramah di kantong ini selama bertahun-tahun tak pernah kehilangan pengunjung setianya. Sebab siapa bisa menyangkal keseruan dan kenikmatan yang didapat saat berkunjung ke tempat ini. Kawasan daerah Cibadak menyeru senandung kebebasan di malam hari, tempat berkumpulnya raga-raga yang letih, lesu, dan juga lapar. Jalan Cibadak bukan hanya jalanan yang ditempati puluhan pedagang malam saja. Lebih dari itu, merupakan suatu tempat yang berkisah banyak cerita tentang riangnya kehidupan, sambil menyantap hidangan malam.

Soal rasa dan selera tak perlu ditanya. Berbagai jenis makanan dengan cita rasa oriental dan lokal semua tersedia di sini. Lokasinya yang tak jauh dari wisata kuliner Sudirman Street membuat Cibadak kulinary night memiliki sedikit impresi yang serupa dengannya. Masakan yang dijajakan pedagang hampir sama dengan masakan-masakan yang berada di sudirman street, yaitu masakan khas oriental yang cocok bagi para pecinta olahan daging babi. Eitsss tapi jangan salah dulu, di Cibadak Culinary Night, kita gak cuma menemui daging babi saja. Banyak makanan lainnya yang halal, yang bisa dinikmati semua kalangan. Menu masakan yang dijajakan di Cibadak ini bisa dibilang accepting banget terhadap ragam kebudayaan. Dari mulai pork-lovers sampai halal-lovers semua hadir di sini. Penjual makanan halal biasanya menempelkan cap bertanda halal dengan tulisan arab untuk meyakinkan pengunjung yang tidak dapat mengonsumsi olahan daging babi. Berburu makanan di sini tentu sangat seru, bukan?.

Bila manusia dapat memiliki banyak kepribadian, maka tak lain halnya dengan Jalan Cibadak ini. Dalam satu hari Cibadak dapat berganti wajah. Waktu terbenam dan terbitnya benda langit menjadi awal berubahnya wajah dan suasana di jalanan ini. Saat matahari masih berkuasa dan debu dirasakan di mana-mana, sepanjang jalan cibadak hanyalah deretan toko-toko kelontong biasa. Saat berjalan di tengah teriknya matahari kita hanya akan mendapati pedagang biasa yang menjajakan barang-barangnya sembari menunggu pengunjung datang. Tak ada hal istimewa selain gaya bangunannya yang terbilang sudah kuno dan tua. Saat menelusuri deretan bangunan-bangunan tua ini, kita akan terbahwa pada hembusan memori yang bahkan tidak pernah dimiliki. Yang tua memang selalu mengingatkan kita betapa berartinya menghargai waktu.

Matahari redup, bulan menutup biru, bintang pun berhambur seru.  Hari berganti menjadi gelap. Walaupun senja adalah saat paling cantik, malam harus juga tiba. Cibadak Culinary Night mulai dipenuhi pedagang-pedagang kaki lima, dibarengi dengan dibukanya resto-resto yang sama nikmatnya. Suasana jalan cibadak kini berubah. Pribadi aslinya yang lain kini mulai terlihat. Ia menampakkan sisi lain dari sekadar toko-toko kelontong biasa. Sisi sentimental dari sebuah bangunan tua mulai larut dalam padatnya jajaran pedagang malam. Jalan Cibadak kini mulai hidup, tidak membosankan dan lebih memberi warna. Hingar bingar kota Bandung di bawah langit yang sudah gelap akan sangat terasa di sepanjang ruas jalan ini.

Ribuan pengunjung mulai memadati jalanan. Berseliweran, mencari santapan untuk makan malam. Di bawah kerlap-kerlipnya lampu yang mengudara, dengan dinginnya angin malam, menyantap makanan di sini akan terasa begitu istimewa.

R.A /S.J

Kenali Kampung Adat, Mahasiswa IKOM UPI Kunjungi Kampung Naga

Ditengah moderenisasi dan kemajuan teknologi, eksitensi kampung adat yang ada di Jawa Barat masih tetap terjaga. Mengingat kampung adat merupakan salah satu dari sekian banyak kekayaan budaya yang ada di Indonesia. Untuk memberikan wawasan serta mengenalkan kampung adat di kalangan mahasiswa baru, Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia melakukan kunjungan ke Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat pada Senin (02/12/2019). Setibanyak di area parkir kampung naga, sebanyak 95 mahasiswa angkatan 2019, dan dosen pembimbing diberi arahan oleh tiga pramuwisata yang merupakan warga asli kampung naga mengenai aturan-aturan saat berkunjung ke kampung naga.

 

Setelah menuruni sekitar 400-an lebih anak tangga, mahasiswa angkatan 2019 dan dosen pembimbing tiba di pemukiman warga kampung adat. Mahasiswa pun dipecah menjadi tiga kelompok untuk berkeliling dan bersosialisasi dengan warga yang sedang beraktifitas.

“Semua rumah yang ada di Kampung Naga bangunannya sama semua. Jadi, mulai dari bangunan, bentuk, bahan, sampe bentuk rumah panggungnya gak  boleh di rumah, ungkap salah satu pramuwisata saat bercerita di depan salah satu rumah warga.

Selama berkeliling mahasiswa pun diperkenankan untuk bertanya segala hal yang ingin diketahui mengenai kampung naga. Mengingat kunjungan ke Kampung Naga ini merupakan kunjungan pertama bagi sebagian besar mahasiswa departemen Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2019.

 

Seusai berkeliling dan berinteraksi dengan warga yang sedang melakukan aktifitas, mahasiswa diarahkan ke “bale desa” untuk beristirahat dan menyantap makan siang yang sudah disediakan oleh warga Kampung Naga. Sebelum berpamitan untuk pulang ke kampus, mahasiswa dan dosen pembimbing menyempatkan foto bersama dengan ketiga pramuwisata.