“Relasi santri dan politik dalam setiap zaman itu saling berkaitan, maka wajar jika yang harus dipilih dan terpilih adalah santri. Namun, terdapat hal-hal serupa dramaturgi di dalamnya. Adapula kekuatan implisi yang tercermin dari cara berkomunikasi. Semakin banyak komunikasi, semakin banyak hal yang dipertanggungjawabkan.”

Hal itu dituturkan oleh narasumber kuliah umum pada Kamis (13/9/2018) yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Gelar wicara publik tersebut mengangkat tema terkait “Gaya Komunikasi Politik Santri”, yang berlangsung di Auditorium FPIPS Gedung Nu’man Somantri. Kegiatan ini menghadirkan Wakil Gubernur Jawa Barat Periode 2018-2023, H. Uu Ruhzanul Ulum, S.E., serta Guru Besar Komunikasi Politik UPI yakni Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si., dan dihadiri seluruh mahasiswa Ilmu Komunikasi UPI angkatan 2016-2018.

Acara gelar wicara publik tersebut dimulai pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dan dimoderatori oleh Erwin Kustiman, S.S., S.Sos selaku Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat. Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, lalu laporan dari Ketua Departemen Ilmu Komunikasi, sambutan dari dekan FPIPS UPI, dan sambutan dari Wakil rektor UPI. Kemudian, acara dimeriahkan dengan menanyikan lagu “Sayang” yang diiringi angklung oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi yang tergabung dalam Angklung Padasuka.

Diawali oleh H. Uu Ruhzanul Ulum yang membuka sesi diskusi dengan menjelaskan mengapa ia terjun di dunia politik. Inti komunikasi yang dilakukan sebagai seorang santri dalam setiap langkah yang paling utama adalah apa dan bagaimana tujuan dalam melangkah. Dengan meluruskan niat demi mendapat ridho Allah SWT. yang diiringi dengan tekad kuat dan silahturahmi. Ada pula bahasan mengenai implementasi masyarakat Jawa Barat yang memiliki akhlak dan iman yang kuat dilihat dari slogan Bandung juara yang mana juara dalam bidang agama, pendidikan, kesehatan, ekonomi, kebahagiaan, aparatur dan infrastruktur.

Bapak Uu menjelaskan bahwa ada kaitannya dengan pemimpin yaitu adil, memberi rasa aman dan nyaman juga kemudahan bagi masyarakat dalam aktifitas sehari-hari serta ketenangan bagi seluruh umat yang melaksanakan ibadah.

Setelah itu diskusi dilanjut oleh pembicara lainnya yaitu Guru Besar Komunikasi Politik UPI, Prof. Karim Suryadi, M.Si yang mengatakan bahwa orang jabar mencintai sunda tetapi lebih mencintai Islam. Antusias para mahasiswa pun semakin terpancar saat memasuki sesi diskusi ini. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya mahasiswa yang aktif bertanya.

“Menurut saya acara diskusi publik ini sangat bermanfaat untuk kita sebagai mahasiswa kedepannya dimana mahasiswa harus bisa berpikir kritis terhadap suatu persoalan” Adapun ujaran dari mahasiswa Ilmu Komunikasi sekaligus Ketua BEM Himikasi UPI yaitu Riko Purbowo saat diwawancara.

Selain itu, “Menurut saya tepat sekali dengan tema seperti ini pembicara kita adalah bapak Wakil Gubernur yaitu bapak Uu Ruhzanul Ulum yang mana memiliki latar belakang sebagai santri di salah satu pesantren” ujar Fasha Rouf sebagai alumni Ilmu Komunikasi yang hadir diacara tersebut saat di wawancara.

Kegiatan ini diharapkan dapat membuka perspektif mahasiswa ilmu komunikasi terhadap fenomena politik santri yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Karena mahasiswa juga perlu mengetahui bahwa keberadaan santri di dunia politik sudah diakui eksistensinya.*ONR & SRF*