Oleh AI DINI RINDIANI

(Mahasiswi Ilmu Komunikasi UPI 2012)

REMAJA merupakan masa yang paling sulit untuk dilalui oleh individu. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa yang paling kritis bagi perkembangan pada tahap kehidupan selanjutnya. Remaja yang sedang berkembang kematangan seksualnya, jika kurang mendapatkan pengarahan dari orang tua, akan mudah terjebak dalam masalah. Banyak sekali korban maupun pelaku dari tindakan yang melanggar berasal dari remaja, dari seks bebas sampai perilaku kriminal yang tidak bisa di toleran yaitu pembunuhan. Untuk itu remaja perlu diawasi dan dibimbing agar tidak salah arah.

Universitas Pendidikan Indonesia adalah salah satu universitas yang menginginkan mahasiswanya berakhlak mulia dan jauh dari tindakan kriminal. Untuk itu para dosen MKDU mengadakan acara tutorial PAI sebagai ajang untuk mengajak mahasiswanya mempunyai sifat Islami dan berakhlak baik.

Dalam pelaksanaan, tutorial sering hanya sekadar ajang untuk mendapatkan nilai bagus dalam mata kuliah pendidikan agama Islam. Lemahnya peraturan panitia tutorial menambah point untuk pernyataan tadi. Bermacam kasus terjadi pada saat acara tutorial berlangsung. Ada mahasiswa yang hanya mengisi absen langsung pulang. Ada yang ikut masuk ke dalam ruangan tutorial, namun dia tidak mendengarkan materi melainkan tidur di dalam ruangan dengan nyenyaknya tanpa ada panitia tutorial yang menegurnya.

Pemateri berbicara di depan dan para mahasiswa pun ikut berbicara di tempat duduknya masing-masing. Terkadang antara pemateri dan mahasiswa saling beradu suara. Bahkan parahnya, ada pula mahasiswa yang sedang main atau bermalas-malasan di rumahnya masing-masing, tetapi kartu presensi mereka ikut dengan temannya yang datang ke acara tutorial dan mereka pun dengan cuma-cuma bisa mendapatkan absen. Mahasiswa yang benar-benar berniat mencari ilmu dengan hadirnya di acara tutorial itu bisa dikatakan hanya beberapa persen. Mungkin hanya  1/8% dari seluruh peserta tutorial.

Kenapa semua kasus tersebut bisa terjadi? Itulah cerminan lemahnya penegakan peraturan tutorial  panitia. Kadagkala terjadi, mahasiswa sudah siap mengikuti acara mentoring, yang masih termasuk dalam tutorial PAI, tetapi para mentor tiap kelompok telat datang. Parahnya sampai ada mentor yang tidak pernah datang sekalipun hingga acara tutorial berakhir. Akhirnya, peserta tutorial yang menanggung sanksinya. Padahal itu bukan kesalahan mahasiswa peserta tutorial.

Sebenarnya tutorial itu bermanfaat atau tidak? Jika dilihat dari kenyataan yang terjadi selama bertahun-tahun, dan selalu terjadi kasus-kasus seperti itu, tutorial hanya membuang waktu semua orang yang terlibat di dalamnya, para dosen, panitia, petugas mentor, dan para peserta. Tujuan awal dari tutorial pun tidak akan tercapai, mungkin akan berhasil pada beberapa mahasiswa. Namun pada mahasiswa yang melakukan kasus di atas kecil kemungkinan berhasil mengubah pikiran dan perilaku mereka, bahkan akan menimbulkan kebiasaan buruk dampak dari tindakan kasus yang mereka lakukan. Mereka akan merasa nyaman seperti itu dan akan terus-menerus melakukan itu jika tidak ada perubahan dari acara tutorial itu.

sumber