Panas terik matahari seketika dikalahkan oleh kelabu yang membawa rintik-rintik air turun ke bumi. Walaupun begitu, Pura Wira Chandra Dharma masih menampakkan kemegahannya. Sejak langkah pertama, terasa Kota Kembang tergantikan oleh eloknya Pulau Seribu Pura.

Membangunnya tidak serta merta dengan menumpuk batu, namun niscaya sang Pura pun memerlukan sebuah upacara. Upacara Nyukat Karang, demi menimbang mantap tiap jengkal bangunan pelinggih yang menunggu kedatangan umatnya. Ada pula sesajen yang harus diletakkan tepat dimana bangunan suci itu siap untuk dibangun. Nampak oleh mata, sesajen hanyalah kumpulan berbagai benda, namun secara magis mengandung rasa bhakti kepada Tuhan yang Maha Esa. Sebuah perwujudan cinta kasih, rasa terima kasih atas anugerah yang sudah diberikan.

Layaknya sebuah tempat ibadah, jelas sekali ada aturan yang tak patut untuk dilanggar.  Para puan yang berada di dalam masa datang bulan, ataupun baru saja memperoleh titel ibu tidak berkenan memasuki pura, mereka dianggap masih belum suci. Bagi yang sedang berduka, atau bayi yang masih belum melakukan tiga upacara bulanan, mereka masih tidak dapat merasakan kenyamanan yang diberikan oleh sebuah Pura. Rambut yang diurai pun tak diijinkan, sebab menandakan birahi, marah, sedih atau memegang ilmu hitam. Dan masih banyak tata kesopanan lainnya yang harus diikuti ketika hendak memijakkan kaki di dalam pura.

Terdapat tiga dewa dijadikan pusat ajaran agama Hindu. Dewa pencipta yaitu Dewa Brahma, Dewa pemelihara yaitu Dewa Wisnu dan Dewa pelebur yaitu Dewa Siwa. Baik pria dan wanita memuja mereka, tapi untuk memuja Dewa saja, bukanlah perilaku penyembah yang baik. Tak lupa mereka diajarkan untuk menyembah Tuhan yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi.

Sebelum sembhayang dimulai, jasmani harus sudah dibersihkan dan disucikan, kemudian  masing-masing mempersiapkan alas duduknya. Bagi agama Hindu, air menjadi komponen penting, mereka menyebutnya Tirtha. Tirtha Wangsuhpada sebagai lambang karunia dipergunakan, mangkok kecil berisikan beras yang sudah dibersihkan, juga wewangian seperti dupa dan bunga secukupnya disiapkan diatas nampan. Untuk menapakan jejak pun, alas kaki yang menghalangi tubuh dengan sang bumi harus dilepaskan.

Tidak hanya tubuh, rohani pun perlu diberikan persiapan. Bagi para puan, pikiran harus terpusatkan serta diiringi sikap Bajrasana yaitu duduk bersimpuh. Bagi para pria, sikap Padmasana yang harus mereka jalani yaitu duduk bersila. Setelahnya, dupa dinyalakan dan dihanturkan, membersihkan bunga dengan asap dupa sambil memanjatkan doa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Rangkaian selanjutnya ialah Pranayama, yaitu nafas untuk Kedamaian. Dengan sikap tangan Amustikarana yaitu tangan kanan dan tangan kiri dipertemukan dengan rapat, ibu jari ditaruh di dahi. “Om Ang namah” sembari menarik nafas, “Om Ung namah” sembari menahan nafas, “Om Mang namah” sembari mengeluarkan nafas.

1542287710629Persiapan sembahyang ditutup dengan mensucikan pikiran yaitu dengan sikap tangan Karasodhana. Setelah semua persiapan telah dirampungkan, jemaat pun melakukan Puja Tri Sandya dilanjutkan dengan Kramaning Sembah.

Mereka pun berharap dalam si setiap kata yang terucap baik pujian ataupun permohonan maaf, akan dikabulkan oleh Sang Hyang Widhi. Menurut umatnya, dupa adalah pengantar bagi sebuah doa, membuat kita lebih dekat dengan Tuhan. Bunga dilambangkan sebagai keikhlasan, serta Tirtha digunakan bagi penyucian diri.

Bak sebuah sihir bagi mereka yang datang, resah pun hilang tergantikan oleh perasaan tenang. Sembahyang layaknya pintu terbuka bagi umat Hindu yang hendak menghapus dosa-dosanya. Memberikan ijin untuk memohon dan memanjatkan berupa-rupa doa bagi penganutnya. Menjadikan Sang Hyang Widhi, tempatnya berkeluh kesah berharap mendapat jawaban yang terbaik. Rasa toleran dijadikan sebuah kebiasaan umat beragama Hindu, tak peduli apakah agama yang mereka anut berbeda. Keyakinan mereka bahwa setiap orang memuja Tuhan yang sama dengan nama berbeda. Entah disadari atau tidak oleh umat lain, mereka tetap melakukannya tanpa mengharap imbalan. Memandang seluruh dunia sebagai suatu keluarga besar yang mengagungkan satu kebenaran yang sama. Menghargai segala bentuk keyakinan dan tidak mempersoalkan perbedaan agama. Akhik kata, sang penjaga pura pun berpesan, “Kamu adalah aku, aku adalah kamu, sakitku sakitmu, bahagiamu bahagiaku, sedihmu sedihku juga.”

(SNA & DVL)

Language
Scroll to Top