Bandung, IKOM – Program Studi Ilmu Komunikasi bersama Himpunan Mahasiswa Ilmu komunikasi menyelenggarakan kegiatan yang membahas mengenai “Teka – Teki Baliho” . kegiatan yang dilaksanakan 4 September 2021 ini dihadiri oleh beberapa pembicara, diantaranya Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UPI, Prof. Dr. H Karim Suryadi, M.Si selaku Guru Besar Komunikasi Politik Upi, Prof. Dr. Drs. Ibu Hamad, M.Si selaku Sekretaris dewan Guru Besar FISIP UI dan Erwin Kustiman, S.S, S.os., M.I.Kom selaku Corporate Secretary Pikiran Rakyat. Selain itu hadir Dr. Leni Anggraeni, M.Pd selakuk Kepala Pusat Kajian Pemberdayaan Masyrakat dan Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UPI sebagai moderator dalam acara ini.

Kegiatan ini dibuka oleh Karim Suryadi yang menekankan kepada orientasi masyarakat ditengah pandemi. “disaat banyak orang memikirkan mengenai Kesehatan, hidup tentram dan ekonomi yang memadai menjadi orientasi utama mereka, disisi lain ramainya pemasangan baliho yang dilakukan oleh elit politik membuat masyarakat banyak yang geram”

Selain itu pria berkacamata ini menambahkan “ketika kondisi tersebut terjadi kemana para pakar ini, kok membiarkan meraka yang kosong ilmunya lebih banyak berbicara. Sehingga mereka dikenal dengan sebutan ‘jago panggung’” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Dewan Guru Besar Fisip UI menambahkan dalam perspektif etika komunikasi, “Jika dilihat dari etika komunikasi orang orang yang memasang baliho ini mengalami dilemma etik, mereka mengalami benturan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik”

Setelah pemaparan selesai, acara berlanjut kepada sesi tanya jawab, dalam sesi ini terdapat beberapa peserta yang mengirimkan pertanyaan, diantaranya datang dari Alivia selaku peserta yang bertanya “Apakah pemasangan baliho diperbolehkan saat ini? bukannya pemasangan baliho ini mubadzir bagi politisi?”

Hal tersebut ditanggapi oleh Guru Besar Komunikasi Politik UPI yang menuturkan “Jika dilihat secara numerik pemasangan baliho ini bisa kita katakana jauh, namun secara psikologis seorang politisi tidak”

Selain itu ada pendapat yang disampaikan oleh Farrel Fauzan yang melihat dari perspektif rakyat, ia menjelaskan “Pemasangan baliho ini dianggap buruk karena para calon ini dianggap belum menyelesaikan amanahnya sebagai wakil rakat, belum lagi sempat ada partai yang terkena kasus dan sekarang beramai ramai memasang baliho, padahal jangka kompetisi pemilu masih sangat panjang, tentu saya hal ini membuat masyrakat menjadi geram.

Mungkin benar dari segi hukum pemasangan beliho di tengah pandemic tidak salah, tapi apakah pemasangan itu sudah sesuai dengan kondisi yang sekarang jika dilihat secara estetis? Jika hal itu sudah dianggap benar secara aturan, etika maupun esterika, maka tidak akan menjadi masalah jika elit politik ingin memasang baliho dengan tujuan yang benar.

Di akhir Karim Suryadi menutup acara dengan memberikan analogi “dalam salah satu bab buku Masnawi Jalaludin Rumi terdapat cerita bahwa dahulu terdapat suku yang suka menanamkan tato ditubuhnya bagi mereka yang memiliki keberanian luar biasa, nah disana ada seorang penakut yang ingin dikesan sebagai pemberani, dengan cara memasang tato ditubuhnya, namun alhasil gagal”. dapat disimpulkan, untuk membentuk citra kepada banyak orang, tidak hanya membutuhkan omongan yang tidak dibuktikan dengan tindakan nyata, namun untuk melaksanakan tugasnya seseorang membutuhkan mental dan keberanian supaya hal yang dilakukan dalam aksinya bsia berbuah kepada hal yang benar.

*RA*

Language
Scroll to Top