cclLadang terbuka tempat bermain, perlahan-lahan terkikis oleh bangunan beton. Jalanan berdebu, telah menjadi jalanan semen yang menutup rapat rerumputan. Lintasan roda mobil-mobilan, telah menjadi lintasan angkutan kota dengan dibangunnya terminal. Kenang Iman Soleh (49), mengingat kondisi 1972- 1975 silam. Ia sebagai penduduk asli Ledeng, merasakan secara langsung pembangunan yang pesat kala itu.

“Terminal telah menjadi tempat dimana setiap orang asing datang. Termasuk juga Perguruan Tinggi yang banyak di antaranya menerima mahasiswa pendatang ke Bandung.” Ucapnya gelisah. Ketika itu, ia masih menempuh jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam pikirannya, berkecamuk segala kecemasan. Ia takut, masyarakat tempatnya tinggal, akan terlena dan melupakan nilai-nilai hidupnya sendiri.

Iman, mempunyai latar belakang teater yang kental sejak belia. Dari teater ia mengetahui banyak hal. “Melalui teater, nilai-nilai tentang makna hidup dapat dipelajari dan diajarkan”, ucapnya. Namun, ia melihat bahwa hampir seluruh teater di Indonesia, baginya tidak pernah dewasa. Banyak orang yang menyukai teater, namun mereka hilir mudik meninggalkannya setelah lulus sekolah. Karena teater hanya sebatas ekstrakulikuler.

Ia lebih menyukai keberadaan teater di luar institusi pendidikan formal. “Kelompok teater di luar sekolah akan lebih terpelihara karena adanya kesadaran yang lebih tulus”, selorohnya. Selain itu, teater juga akan mudah dimengerti makhsudnya dan tidak terpecah bentuk-bentuknya. Ia mencontohkan kelompok teater yang fenomenal ketika itu adalah Bengkel Rendra. “Yang di luar sekolah itu, lebih terbaca”, imbuhnya.

Kala itu, ia juga pernah merasakan seperti menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Itu ketika, masyarakat di tempatnya tinggal bahkan tidak tahu apa itu teater. Ia sering mendengar pertanyaan, “Ari Iman teh kerjanya naon? Ai teater teh tukang ngabodor?”, Ingat Iman kala itu. Sakit hatinya itu, kemudian ia tekadkan agar tidak menjadi terasing dari rumah dan masyarakatnya sendiri.

“Rumah” Teater bernama CCL

Ia kemudian terinspirasi untuk membuat sebuah ‘rumah’ teaternya. Maka, halaman depan rumahnya itulah yang menurutnya paling cocok. Biarpun sangat sederhana, tapi karena itulah jadi bisa lebih dekat dengan masyarakat. “Tidak bernama teater, tapi sebuah komunitas”, cetusnya sambil menyeruput kopi hitam di cangkir yang ia genggam. Karena baginya, orang yang masuk teater tidak semuanya bercita-cita menjadi pemain teater. Ada orang sastra, seni rupa, dan musik. Pada saat itulah, lahir komunitas yang ia beri nama Celah-celah Langit (CCL). “Pertemuan sastrawan, pelukis juga pemusik seperti Harry Rusli yang sering nangkring di sini, kemudian membuat CCL tumbuh dan terus berkembang”, ucapnya sambil terkekeh.

“CCL tumbuh tidak hanya beranjak dari teater saja, tapi lebih pada bagaimana cross-culture dan transculture”, ucapnya. Dari situ, kelompok kesenian bisa menampilkan kegiatan diskusi hingga pertunjukkan. Kedua hal tersebut, di antaranya untuk bisa menumbuhkan sikap saling memahami, mengerti, dan menghayati keberagaman. “CCL juga mengajarkan ilmu tentang hidup”, imbuh Fuad (22), seniman yang sering mendampingi Iman di CCL.

“Saya jarang sekali melihat kelompok teater yang nanggap teater”, Ujar Iman. Biasanya yang ia jumpai, kelompok teater umumnya hanya produksi teater saja. Tidak menyelenggarakan penampilan teater kelompok lain. Hal itu, beda dengan yang ia temui di Negara- negara yang pernah ia kunjungi di berbagai belahan dunia. “Itu saya temukan, setelah saya ke beberapa tempat, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia”, pungkasnya.

Bukan hal mudah, menjalankan CCL dari massa ke massa. “Pada zaman orde baru, naskah pementasan harus diberikan ke Keamanan dan Ketertiban Nasional (Kamtibnas), lalu ke Polsek, Tentara, dan juga Polisi”, tuturnya. Belum lagi, ketika pementasan, juga masih harus diawasi oleh inteligen yang siap siaga di lokasi. “Adeuh, repotnya pada zaman itu”, ia menimpali. Kala itu, organisasi-organisasi seperti CCL disebut sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang dianggap ‘kekiri-kirian’. Maka teater saat itu, dianggap berbahaya. Sehingga, jarang sekali mentas bahkan dilarang.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan CCL semakin diterima dan dekat dengan masyarakat. Berbeda dengan komunitas-komunitas teater yang berada di jalur institusi pendidikan, CCL lebih memilih untuk hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa sekat dan dibiarkan begitu adanya. Karena itulah, penonton yang mampu dihadirkan CCL pun juga lebih beragam dari berbagai elemen masyarakat. “Siapapun boleh ikut. Termasuk seperti saya warga biasa yang tidak mempunyai latar belakang teater sama sekali”, ucap Tari (23), warga sekitar Ledeng.

Membaca penonton, adalah hal yang ingin dilakukan CCL. Yaitu menonton penonton. “Ketika menonton penonton, penonton itu paling jujur. Istilahnya orang awam itu paling jujur dalam menilai. Seperti anak-anak yang polos”, pungkas Iman. Ketika telah berada di tengah masyakarat, menurutnya tidak boleh mengalinasi diri dari mereka. “Kita bersatu saja dengan masyarakat, jangan mentang-mentang seniman atau apa malah menjauhkan diri”, tegasnya.

“Teater hanya sebuah alat. Tapi pemikiran dan pesan lah yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat”, ucap Iman dengan muka wajah yang lebih serius dari sebelumnya. Ia mengatakan bahwa penampilan, akting, bentuk pertunjukan, musik atau  segala macamnya itu sudah selesai pada saat pertunjukan usai. Tapi ketika penonton telah pulang ke rumah, yang kemudian penting baginya adalah pesan yang disampaikannya diterima masyarakat. “Misalkan pertunjukan tanah, maka masyarakat setelah teater itu selesai harus lebih menghargai tanah”, imbuhnya.

Membangunkan “Semedi” Kaum Urban

Di tengah hiruk pikuk kaum urban, satu sama lain adalah layaknya orang asing. Mungkin kita mengenal beberapa di antara mereka. Namun, ketika sudah di dalam angkutan umum atau ruang publik, kita seakan saling ‘bersemedi’. Ada yang sedang membuka smartphone, chatting, update sosial media, main games, sok memeriksa catatan agenda, atau apalah. Kita sibuk dengan diri kita masing-masing, yang enggan ditanya dan tidak mau diganggu. Seperti itulah cara kita ‘semedi’ ala kaum urban.

Sadar, bahwa sekarang kita berada di bawah sirkuit kaum urban, dengan segala tetek bengek kesibukan. CCL asuhan Iman soleh ini, seakan hadir sebagai oase untuk menyadarkan masyarakat dari ‘semedi’ nya. Jangan sampai, akibat terlalu lama ‘semedi’, nantinya akan mengubah diri menjadi ‘batu’. Yaitu kaum urban yang lupa punya nurani sebagai manusia. Lupa, bahwa kita diciptakan sebagai makhluk sosial, karena acuh terhadap sekitar. Maka, teater dapat dijadikan sebagai ruang ekspresi dan interaksi untuk membangunkan kaum urban dari ‘semedi’nya.

Sosiolog Siti Komariah, menuturkan bahwa Ia sangat berbangga hati dan mengapresiasi, jika ada orang-orang yang dengan keikhlasan berjuang untuk masyarakat. “Saya berbangga hati dan bahagia kepada CCL, yang seperti istilah itu, back to nature, artinya mau membawa masyarakat untuk kembali kepada makna hidup sesungguhnya”, ucapnya.

Bagi Siti, secara naluriah memang setiap orang membutuhkan interaksi dan berkelompok sebagai makhluk sosial. “Interaksi itu, syaratnya harus ada kontak dan komunikasi. Dan untuk melanggengkan interaksi tersebut, sebuah komunitas misalnya harus mempunyai kesamaan pandangan dan tujuan yang ingin dicapai bersama”, terangnya.

Ia juga berharap, bahwa CCL mampu memberikan dampak positif dengan mengajarkan kembali nilai-nilai kehidupan di masyarakat. Caranya dengan kesenian yang mereka lakukan. Sehingga, generasi bangsa ini terpanggil untuk belajar budaya-budaya milik sendiri yang sudah perlahan-lahan tergerus modernisasi, dan juga agar mampu mendekatkan kehidupan nyata masyarakat sesungguhnya.

***Nurul Nur Azizah, mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi 2013.