Pantomime, Tubuh sebagai Bahasa PerdamaianJam menampilkan angka 18:45. Hujan pun mulai turun, udara dingin menyelimuti Bandung. Namun, kesibukan jalan Braga tak lantas meneduh. Di antaranya sesaknya gedung-gedung bersejarah, di atas balkon hostel, lagi-lagi jalan Braga menciptakan sejarah.

Setelah memarkirkan kendaraan, sambil berlari kecil saya  bergegas menepi untuk menghidari hujan. Dua menit berselang, Wanggi menghampiri, kami masuk melalui lorong hostel Chez Bon. Lalu, menaiki puluhan anak tangga, dengan tubuh dan napas yang berat akhirnya saya disambut aroma dupa di atas balkon. Sambil tersenyum, Wanggi berkata “Lagi menenangkan diri”.

Di atas hostel, lalu lalang dan riuhnya kendaraan di Jalan Braga tak terdengar. Hanya suara rintik hujan yang jatuh ke atap. Wanggi membuka bungkus rokoknya, mengambil satu batang dan langsung menyalakannya. Saat itu, saya langsung bertanya “Kenapa harus Pantomim?”. Sambil menghisap rokoknya, Wanggi menjawab “Karena Pantomim adalah seni yang langka …. Seni gerak (yang berbicara)  melalui bahasa tubuh dan imajinasi”.

Percakapan mengenai Pantomim terus berlanjut. Wanggi pun mengeluhkan keadaan Pantomim di Indonesia. Dengan suara yang sedikit berat, Wanggi mengatakan jika saat ini banyak seniman Pantomim Indonesia yang melupakan esensi dari Mime itu sendiri. “Mime the leangue of peace” begitu katanya. Menurut dia, setiap negara memiliki permasalahan yang berbeda-beda, dan Pantomim harus disesuaikan dengan keadaan negaranya. Misalnya Indonesia, yang memiliki ribuan pulau terhampar dan perebutan tanah menjadi permasalahan yang merajalela.

“Setiap negara punya bahasa tubuh masing-masing, kebudayaan masing-masing….. Ketika berpantomim, saya menggunakan iket kepala sebagai simbol lokalitas dan bentuk perjuangan rakyat untuk mempertahankan tanahnya” ujar pria kelahiran Cirebon ini sambil terus menghisap rokoknya.

Asap rokok dan dupa mulai menyesaki ruangan, napas mulai sesak dan sesekali saya meneguk air yang telah disediakan. Percakapan berlanjut, menurut Wanggi, Pantomim merupakan pengingat bagi penguasa jika ada sesuatu yang tidak dalam keadaan baik-baik. Gerakan yang kerap ditampilkannya merupakan bentuk dari perdamaian yang ditawarkan.

“Saya menawarkan Pantomim sebagai medium bagaimana perdamaian dan perlawanan yang santun dan sederhana” tutur pria yang bernama lengkap Wanggi Hoediyatno Boediadjo.

“Bukan mengkritik pemerintah (tapi) mengingatkan sebagai warga negara. Dan hak bersuara saya melalui Pantomim” tambahnya.

Saat ditanya mengenai alasan menyuarakan perdamaian melalui Pantomim, tiba-tiba suasana menjadi hening. Sambil menikmati aroma dupa, Wanggi memperlihatkan rekaman video ketika dirinya berada di acara Mata Najwa. Rekaman tersebut menampilkan pertunjukkan Pantomim Wanggi dengan tajuk “Merayakan Kematian”.

Ketika rekaman video memasuki menit ke-4, Wanggi berkata “Saya anggap, Indonesia kecil Indonesia besar, dunia ini sudah mati. Karena orang-orangnya sudah tidak bisa lagi merawat ingatan. Sudah tidak bisa lagi membuat dunia ini bahagia. Dan apalah artinya hidup …… (sebab) hidup akan tertuju pada satu perayaan, yaitu kematian”.

Sambil terus menyimak rekaman video, tiba-tiba suara Wanggi terdengar “Dalam sejarah kita mengetahui proses-proses yang bersembunyi dan disembunyikan” ucap Wanggi untuk menjelaskan makna dari ucapannya di dalam rekaman video.

Video pun berhenti, sambil mengerutkan kening saya lalu bertanya “Dari mana gerakan itu hadir?”. Wanggi menjelaskan jika gerakan yang dia tunjukkan tidak hanya berasal dari imajinasinya. Riset, observasi, bertanya dan mencari menjadi modal utama untuk menghadirkan bahasa lewat tubuhnya. Tujuannya, agar pesan yang disampaikan sesuai dengan peristiwa yang terjadi.

“Dengan itu, saya dapat menyuarakan bahasa tubuh dengan benar dan sesuai dengan peristiwa yang ada”

Wanggi pun tidak mengelak jika penonton atau masyarakat yang melihat pertunjukkannya tidak semua mengerti dengan pesan yang disampaikan. Namun, Alumnus STSI Bandung jurusan teater angkatan 2006 ini tidak merasa khawatir.

“Tidak (khawatir), tujuannya, saya bisa menuangkan gagasan, ekspresi dan keresahan yang saya wakili untuk orang banyak. Saya perwakilan kalian (masyarakat), ketika kalian bungkam saya bersuara dengan bahasa tubuh” ujar Wanggi dengan suara berat.

Bahasa tubuh yang menampilkan keresahannya kerap menghadirkan rasa takut bagi dirinya dengan ancaman-ancaman yang datang silih berganti. Misalnya, pada 27 Maret 2016 ketika merayakan Hari Tubuh Internasional, dirinya diamankan pihak berwenang karena dianggap mengganggu ketertiban umum. “Saya sendiri, yang ditangkap. Dirangkul dan masuk mobil Alphard” ucap Wanggi dengan nada yang sedikit kesal.

Tindakan represi atau ancaman yang hadir kepadanya, tidak membuatnya bungkam. Menurutnya, hal seperti itu akan menjadi suplemen dan merupakan sebuah perjalanan spiritual.

Saya lantas bertanya “Sampai kapan akan terus menyerukan perdamaian melalui Pantomim?”. Namun, Wanggi tidak menjawab. Dia malah asik memainkan ponselnya, tak lama berselang dia kembali memperlihatkan rekaman video. Pada menit ke-15, Wanggi berucap “Saya terus berpantomim sampai napas saya habis, sampai tubuh ini sudah tidak mampu lagi, dan sampai imajinasi-imajinasi saya atau imajinasi yang ada di dunia ini hilang dan habis”.

Tak terasa, jam sudah menampilkan angka 22:05. Kami pun kembali bergabung dengan kesibukan jalan Braga. Di antara sela-sela rintik hujan, akhirnya kami berpisah di depan Gedung Indonesia Menggugat.