{"id":1712,"date":"2020-08-13T05:54:00","date_gmt":"2020-08-13T05:54:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1712"},"modified":"2020-11-13T05:58:10","modified_gmt":"2020-11-13T05:58:10","slug":"klinik-klasik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1712","title":{"rendered":"KLINIK KLASIK"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"999\" height=\"678\" src=\"http:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1714\" srcset=\"https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/1.jpg 999w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/1-600x407.jpg 600w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/1-300x204.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 999px) 100vw, 999px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>\u201cYang menyembuhkan tetap Allah\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terkadang manusia lupa.Sebagian mana hasil usahanya dan sebagian mana pula kuasa Tuhan.Kerendahan hati, bukan kerendahan diri. Semestinya manusia harus mengingat kuasa ilahi. Jawaban singkat dari mereka, ahli pengobatan tradisional, bengkel tulang, Aa Cimande.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua usahaAa Cimande hingga kini telah dikenal masyarakat luas. Namun tetap saja, dikembalikannya lagi pada kekuatan dan berkah ilahi. Kala mencari jawaban tentang siapa yang sebenarnya biasa menyembuhkan semua pelanggan bengkel ini, jawabannya, \u201cYang menyembuhkan tetap Allah.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Sofyan, salah seorang \u201cmekanik\u201d di klinik tersebut menuturkan bahwa Aa Cimande adalah buah nasihat dan amanat. Sebelumnya, Cimande Bogor menjadi rumah pertama aktivitas <em>perbengkelan. <\/em>Disanalah pengobatan ini mulai berkembang, bertumbuh kencang. Hingga suatu ketika,&nbsp; lahirlah mandat dari orang tua untuk mendirikan cabang di Ujung Berung, Bandung.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa ini, ditengah serbuan kecanggihan teknologi, klinik Aa Cimande memberikan bukti nyata. Mampu bertahan, dengan semua kelebihan yang mereka punya. Siapapun ia, bahkan seorang yang telah mejajal pengobatan modern Negeri Jiran, kini pun percaya. Keluhan kaki pada akhirnya diserahkan saja kepada klinik ini . \u201cIni ada yang sudah dioperasi dari rumah sakit.sudah setahun.Penan besinya bengkok dan mur-nya lepas, dirawat lagi disini. Harusnya setahun itu sudah dilepas, sudah bagus lagi.Disini baru dua minggu, <em>Alhamdulillah<\/em> sudah agak lurus.Orang Batam. Operasinya di Malaysia,\u201d ungkap Sofyan menjelaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengobatan di klinik ini punya satu hal unik untuk diulik.Sensor, katanya.Inilah yang mereka miliki, namun tak dipunyai orang pada pengobatan lain. Kata Sofyan, keahlian menyensor didapat berkat garis keturunan. Benar saja ternyata. Para praktisi disini adalah sekelompok keluarga dengan cerita silsilah yang sama. Termasuk Sofyan. Ia merupakan keponakan langsung dari Pak Haji, Kepala Pengobatan Aa Cimande.<\/p>\n\n\n\n<p>Sensor itu mereka sebut sebagai berkah.Menurut penuturannya, tak sembarang orang bisa mendapatkan itu. Tidak ada teori khusus dalam pengobatannya.Selama Sofyan diajarkan Pak Haji, tidak pernah memberikan pemahaman secara teoritis. Bakat itu menempel dengan sendirinya, mengikuti Sofyan dan menyembuhkan siapapun yang ia sentuh.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTidak ada teorinya, itu<em> feel<\/em> aja.kaya sensor gitu. Dipegang kerasa panasnya ga, atau terdengar suara krek, itu berarti ada sesuatu. Ya istilahnya batinnya yang ngejawab, susah ngejelasninnya karena ga ada teorinya. Kaya tulang harus digimanain, pegangnya kaya gimana dan lain-lain.Susah kalau mau diajarin ke orang lain, karena harus ada rasa,\u201d ujar Sofyan. Itu yang mendasari, tak ada satupun orang luar selain silsilah mereka yang menurunkan dan mempunyai kemampuan bengkel tulang Aa Cimande.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam menguasai \u201ckemampuan khususnya\u201d, tak ada teknik khusus pula.Pak Haji hanya sebatas mewajibkan penerusnya untuk menyaksikan dengan seksama, lalu dibiarkan lepas dan terbang bebas dengan nalurinya.Soal mengontrol kekuatannya, Sofyan mesti menggembalakan semua itu secara mandiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Pengobatan tradisional ini melahirkan sebuah teori.Bahkan, sudah terfverifikasi.Mengenai larangan, seolah terkesan mistik dan tak berlandasan, mereka hanya menjawab lewat pengalaman. Selama cerita Aa Cimande dimulai, insting Pak Haji dan \u201cmekanik\u201d lainnya menumpuk berbagai fakta menjadi data. Data itu menjadi batasan dan larangan, pantangan pasien yang tak boleh dilanggar. Aku Sofyan, sudah banyak bukti, baik pasien yang melanggar dan yang tidak. Mereka menjawab benar soal apa yang dicantumkan dalam peraturan, khususnya prihal makanan dan asupan gizi. Klinik ini yakin, sembuh tak hanya berasal dari usaha urut, tapi saripati yang menjadi gizi juga perlu diawasi.Isma Aida sudah menjadi bagian dari bukti, antara menuruti dan membangkang.\u201cDisitu ditulis boleh makan daging, jadi saya makan aja.Selanjutnya dicobain makan rendang, eh bener sakit lagi.\u201d akunya.\u201cYa karena selain daging, ada saripati yang dilarang, santan,\u201d tambah Sofyan.<\/p>\n\n\n\n<p>Selama praktik yang dimulai sejak tahun 90an, sudah banyak pasien silih berganti menghangatkan kursi pengobatan.Kursi beralas kayu itu sudah lama sekali menjadi saksi tentang berapa jeritan yang datang dari rasa sakit yang ditimbulkan. Pun yang disembuhkan. Lalu, obat racikan tradisional dengan bau khas disudut ruangan itu juga tahu siapa saja yang sudah tidur dan beristirahat dengan luka ditulangnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jalan kisah sukses Aa Cimande menyimpan suka dan duka.Tentu semua suka cita para praktisi pengobatan kala pasien berhasil sembuh dan lekas kembali pulang.Selain suka, terkadang klinik ini menyimpan duka. Yaitu ketika harapan dan fakta tak saling berjabat tangan. Dalam kondisi itu, justru para tenaga penyembuh itulah yang layak menyimpan khawatir dan kecewa bahkan melebihi yang dirasakan pasien.Seperti yang dirasakan Sofyan. Terkadang Iamesti menyimpan duka itu kala pasien berharap kesembuhan. Realita tak semudah menjentikkan jarinya untuk mewujudkan doa.<\/p>\n\n\n\n<p>Semua duka bisa berubah menjadi suka.Setiap kesedihan pasti berubah jadi keceriaan. Aa Cimande mngajarkan, bahwa sehebat apapun pengobatan, perlu adanya keselarasan antara doa dan <em>ikhitar. <\/em>Usaha dari pengobatan, dan terlebih dari giat sang pasien. Bahkan mengandalkan \u201cbakat\u201d dan \u201cberkah\u201d pun, menurut Sofyan itu salah. Sensor yang diakuinya sebagai bagian dari insting itu hanya membantu.Tidak bisa juga mengandalkan hati dan akal.Hati membutuhkan akal, pun sebaliknya.karena hati tak berakal, dan akal terkadang tak menghiraukan rasa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJadi insting, pikiran dan batin harus bersatu, tidak bisa mandiri sendiri-sendiri.kalau mengandalkan hati, banyak nafsunya. Diredam oleh pikiran, dibantu oleh insting,\u201d tutupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>(MBT)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cYang menyembuhkan tetap Allah\u201d &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Terkadang manusia lupa.Sebagian mana hasil usahanya dan sebagian mana pula kuasa Tuhan.Kerendahan hati, bukan kerendahan diri. Semestinya manusia harus mengingat kuasa ilahi. Jawaban singkat dari mereka, ahli pengobatan tradisional, bengkel tulang, Aa Cimande. Semua usahaAa Cimande hingga kini telah dikenal masyarakat luas. Namun tetap saja, dikembalikannya lagi pada kekuatan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-1712","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-karya-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1712","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1712"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1712\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1715,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1712\/revisions\/1715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1712"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1712"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1712"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}