{"id":1740,"date":"2020-09-02T06:25:00","date_gmt":"2020-09-02T06:25:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1740"},"modified":"2020-11-13T06:27:49","modified_gmt":"2020-11-13T06:27:49","slug":"imah-babaturan-tempat-menemukan-teman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1740","title":{"rendered":"Imah Babaturan: Tempat Menemukan Teman"},"content":{"rendered":"\n<p>Awal tahun 2000-an, budaya pop \u201cNgopi\u201d layaknya benih yang disemaikan secara meluas, diramu pada setiap jiwa-jiwa muda, generasi yang menyebut dirinya milenial. Banyak <em>Coffee Shop<\/em> anyar bermunculan, telampau di kota Metropolitan, menyuguhkan konsep yang modern juga <em>instagramable<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/6-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1742\" width=\"360\" height=\"271\" srcset=\"https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/6-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/6-600x450.jpg 600w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/6-300x225.jpg 300w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/6.jpg 1186w\" sizes=\"(max-width: 360px) 100vw, 360px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Berbeda dengan <em>coffee shop<\/em> modern kontemporer, yang menjamur di setiap <em>inchi<\/em> kota. \u201cWarung Kopi Imah Babaturan\u201d menjadi salah satu warkop penyuguh kehangatan yang tak dapat dibeli pada <em>coffee shop mainstream<\/em> zaman sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Dijuluki Warung Kopi Kampung di Kota, letaknya strategis, dekat salah satu pusat kota Bandung, yaitu Tamansari. Warung Kopi (Warkop) Imah Babaturan berada di jalan Kebon Bibit, hanya beberapa meter dari Balubur <em>Town Square<\/em> (Baltos).<\/p>\n\n\n\n<p>Konsep \u201cRumah Ramah\u201d kental terasa pada tampak depan warkop Imah Babaturan. Tanaman rambat hijau yang tersusun rapih dalam pot putih membuat kesan segar ditengah hawa udara kering kerontang. Melewati gerbang masuk, pelancong akan langsung tahu, bahwa warkop Imah Babaturan merupakan bekas dari garasi sebuah rumah. Senyum sapa ramah karyawan-karyawan Imah Babaturan menghadirkan rasa nyaman, layaknya bertemu kawan lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan interior tradisional, meja bangku sekolahan yang dilukis oleh cat kayu secara abstrak bernuansa biru, putih dan coklat, membuat <em>focalpoint<\/em> dari warkop tersebut terasa sangat berbeda dan unik.<\/p>\n\n\n\n<p><img decoding=\"async\" width=\"360\" height=\"270\" src=\"\">Beberapa hasil fotografi bertema pojok kota terpajang apik lengkap dengan figuranya. Menghiasi dinding biru gelap dengan beberapa corak putih tak beraturan, dibiarkan alami terkelupas untuk menambah kesan estetik. Dinding sebrangnya dihiasi beberapa bilah kayu coklat tua yang dirangkai menjadi sebuah bentuk jendela, terkesan sederhana dan <em>vintage<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Cahaya berebut tuk merambat melalui atap kanopi, membuat warkop Imah Babaturan tak perlu repot menyalakan lampu kala siang hari. Membangun suasana terang benderang diantara pengunjung yang asyik berbincang, sembari menyantap makan siang khas buatan tangan rumahan, tak lupa dilengkapi secangkir kopi hitam atau <em>latte<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Tempat makan Imah Babaturan terdapat dua bagian, sekat pintu kaca ditengah warkop memisahkan ruangan khusus bagi yang tak suka asap rokok. Sedikit berbeda nuansa, kawasan bebas asap rokok Imah Babaturan berdinding putih bersih dengan aksen kuning di beberapa sisi, dilengkapi dengan dua rak buku putih dari kayu, dan beberapa pajangan karya fotografi Krisna Satmoko bertajuk \u201cSecangkir Kopi : Setahun dalam 365 Detik\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBanyak <em>customer<\/em> yang bilang, kalau kesini itu tidak seperti <em>coffee shop<\/em>, namun lebih <em>homey<\/em>. Dan banyak pendekatan pula yang sering kesini, yang tadinya bukan teman, malah makin menjadi teman dekat. Jadi kesannya, karyawan Imah Babaturan dengan <em>customer<\/em> itu tidak ada batasan.\u201d Ujar Derry Leonardo selaku penanggung jawab warkop Imah Babaturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Oktober 2015, Nurul Huda meneruskan bisnis ibundanya yang telah meninggal dunia. Berawal dari hobi <em>ngopi<\/em>, menghadirkan cita-cita tuk membangun sebuah kedai kopi. Dibantu keluarganya, ia bangun Warung Kopi Imah Babaturan dengan gaya baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Selaras dengan arti namanya, \u201cImah Babaturan\u201d yang berarti rumah teman, konsep merakyat dan tradisional disematkan sesuai dengan keinginan pemilik. \u201cWarkop <em>selengean<\/em>, kalau bisa disebut\u201d Senyum Derry.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan Imah Babaturan memang mencari teman sebanyak-banyaknya. Sesuai dengan filosofi namanya. Mulai dari anak kost yang biasa <em>nongkrong<\/em> pada jam malam, bapak ibu beserta keluarganya saling bersua tuk sekedar sarapan atau makan siang bersama, juga komunitas kopi, fotografer dan musik, berdatangan ke warkop yang terkenal dengan menu kopi terfavoritnya, <em>vietnamese drip.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Suara bising <em>grinder<\/em> kala menghancurkan biji kopi terdengar gaduh di telinga. Cara seduh manual tradisional masih dianut Imah Babaturan, tuk menjaga kepekatan rasa kopi asli Jawa Barat. Ada beberapa kriteria rasa, dibiarkan tetap pahit, sedikit manis, lebih ke asam, atau <em>fruity<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p><img decoding=\"async\" width=\"235\" height=\"348\" src=\"\">Satu hal lain yang menjadi daya tarik Imah Babaturan selain kopi dan makanan rumahannya, adalah menu mingguan. Hanya akan ada satu kali selama satu minggu. Setiap jum\u2019at akan terpajang tulisan menu baru di papan tulis kecil depan warkop, Soto Bandung, Oseng Cumi, atau Lontong Kari khas Imah Babaturan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai saat ini Imah Babaturan telah memiliki sepuluh karyawan, dengan <em>shift<\/em> jam delapan pagi sampai empat sore, dan empat sore sampai sepuluh malam. Berjalan tiga tahun, rencana dekat ini, Imah Babaturan akan memperbesar dapur, dan membuka toko kue disebelah warkop.<\/p>\n\n\n\n<p>Warung kopi tradisional Imah Babaturan, sudah banyak mengalami pahit dan manis perjalanan. Pahitnya dialirkan seraya rasa kopi. Manisnya dialirkan seraya pengunjung yang barangkali datang tuk sekedar mengisi perut dengan makanan ringan, atau menyeruput secangkir kopi tuk menemukan teman.<\/p>\n\n\n\n<p>(FNZ)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Awal tahun 2000-an, budaya pop \u201cNgopi\u201d layaknya benih yang disemaikan secara meluas, diramu pada setiap jiwa-jiwa muda, generasi yang menyebut dirinya milenial. Banyak Coffee Shop anyar bermunculan, telampau di kota Metropolitan, menyuguhkan konsep yang modern juga instagramable. Berbeda dengan coffee shop modern kontemporer, yang menjamur di setiap inchi kota. \u201cWarung Kopi Imah Babaturan\u201d menjadi salah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-1740","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-karya-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1740"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1740\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1743,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1740\/revisions\/1743"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}