{"id":1814,"date":"2020-02-07T08:15:00","date_gmt":"2020-02-07T08:15:00","guid":{"rendered":"http:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1814"},"modified":"2020-12-07T08:16:38","modified_gmt":"2020-12-07T08:16:38","slug":"1814","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikom.upi.edu\/?p=1814","title":{"rendered":"Warna-warni Musik di Balik Jeruji"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bandung<\/strong>, Di balik sebuah gerbang besar dan pengawasan ketat sipir-sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kebon Waru Bandung. Tidak ada yang menyangka bahwa dari sana muncul sebuah geliat kreativitas yang menghasilkan warna-warni musik.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin orang-orang akan beranggapan bahwa di tempat seperti Lapas Waru hanya akan ada kekakuan, aturan, dan hal-hal berbau pengekangan. Apalagi ditambah paradigma sebuah instansi yang sangat lekat hubungannya dengan kriminalitas dan tindak-tanduk negatif lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi siapa sangka, ketika pertama kali masuk melewati sebuah gerbang besar sambil mengalungi tanda pengenal bertuliskan \u201cTamu\u201d, yang kami dengar bukanlah kesengsaraan atau seperti pemikiran-pemikiran barusan. Melainkan sebuah lantunan solo gitar lagu <em>Hysteria<\/em> gubahan <em>Muse<\/em> yang menggema dari sebuah ruangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum akhirnya sampai di pusat suara. Sempat juga terlihat banyak kegiatan seperti diperbengkelan hingga menanam tanaman yang dilakukan oleh Warga Binaan, sebuah pemandangan yang akhirnya mengubah presepsi tentang instansi ini. Bahwa ternyata banyak kegiatan positif yang terjadi bahkan mungkin lebih positif dibanding di luar.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika membuka pintu di ruangan sumber suara tersebut. Betapa hebatnya aksi para Warga Binaan yang memainkan lagu <em>Muse<\/em> dengan piawai. Bahkan sepertinya permainan mereka tidak kalah dari <em>Muse<\/em> itu sendiri. Seisi ruangan pun digetarkan oleh suara vokal yang luar biasa juga diiringi oleh aransemen yang diracik dengan indah. Akhirnya muncul sebuah pertanyaan, dari mana datangnya orang-orang luar biasa ini?<\/p>\n\n\n\n<p>Band yang baru saja memberi warna-warni di Lapas Waru ini dikenal dengan nama <em>WarnaPas <\/em>Band. Diambil dari singkatan Warga Binaan Pemasyarakatan, personil band ini terdiri dari Warga Binaan yang memiliki berbagai keterampilan dalam modern band. Entah apalagi yang tak bisa mereka kuasai. &nbsp;Berbagai jenis musik dapat mereka mainkan dari genre rock macam <em>Muse<\/em> hingga yang beraliran pop masa kini seperti <em>Writing\u2019s On The Wall<\/em> yang dipopulerkan oleh Sam Smith..<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tempat Lahirnya Kreativitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Disinggung mengenai latar belakang, masing-masing personil yang masuk ke <em>WarnaPas <\/em>bukanlah orang yang awan dengan dunia musik. Entah itu menjadi penyanyi profesional di cafe atau sekadar pengamen di jalanan. Apalagi gitarisnya Idot mengaku pernah menjadi personil <em>Pure Saturday<\/em>, salah satu band yang cukup terkenal di Bandung. Dengan beragam <em>background<\/em> yang unik tersebut telah membuat <em>WarnaPas<\/em> lebih berwarna.<\/p>\n\n\n\n<p>Perawakannya gempal dan kulit sedikit hitam dengan suara yang luar biasa, pria itu dipanggil Sandy, vokalis utama <em>WarnaPas<\/em>. Sandy menjadi personil <em>WarnaPas<\/em> sejak 2 bulan pertama di Lapas. Keinginan Sandy bergabung dengan <em>WarnaPas<\/em> dikarenakan penasaran dengan penampilan <em>WarnaPas<\/em> yang terdengar sampai bloknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Sandy studio kecil tempatnya berkreasi itu merupakan tempat lahirnya kreasi dan nilai-nilai positif. \u201cJarang-jarang lah ada fasilitas yang namanya di \u201cpenjara\u201d, orang-orang kan pada negatif pandangannya, tapi kita dateng kesini jadi positif,\u201d ujarnya saat ditemui, Sabtu, (19\/03) . Dia menambahkan bahwa banyak pengalaman dan ilmu yang dapat dia peroleh di sini dibandingkan di luar.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSemua talentnya luar biasa, banyak potensi, banyak ilmu yang bisa saya petik,\u201d ujar Sandy. Dia mengaku telah mendapatkan banyak ilmu lewat pembinanya sekaligus mentor-mentor yang dia kenal sebagai teman satu bloknya. Sandy menilai talent yang ada di <em>WarnaPas<\/em> sangat luar biasa dan memiliki potensi yang terpendam. Banyak personil yang dapat menguasai lebih dari satu alat musik bahkan gitarisnya Idot dapat memainkan alat musik tradisional juga.<\/p>\n\n\n\n<p>Sandy mengatakan pengalaman masuk ke bui merupakan sesuatu yang tidak mungkin diinginkan oleh setiap orang, namun setelah berkegiatan di <em>WarnaPas<\/em> Sandy justru bersyukur dapat mengenal band ini. Pria berumur 28 Tahun ini sudah menjalani masa tahanan selama 6 bulan dan menurutnya dengan bergabung di <em>WarnaPas<\/em> dapat membuat kejenuhannya selama di balik jeruji besi dapat teratasi. Dengan sedikit bercanda Sandy bahkan berkata banyak teman-temannya datang ke studio untuk menyalurkan kegalauan patah hatinya. \u201cBisa gila kalo gaada ini,\u201d ujar Idot yang juga merangkap sebagai vokalis tambahan di <em>WarnaPas<\/em>. &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sandy juga berharap untuk dapat berkumpul lagi dengan <em>WarnaPas<\/em> jika nanti pada akhirnya mreka sudah menghabiskan masa tahanan. Pria asal cimahi ini sudah terlanjur nyaman dengan kekompakan di <em>WarnaPas<\/em> dan dia berharap bisa berkarir bersama dalam dunia musik. Sandy bahkan bercanda dengan dua personil <em>WarnaPas<\/em> yang sebentar lagi habis masa hukumannya kalau mereka pasti akan kembali lagi ke <em>WarnaPas<\/em>.&nbsp; &nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Regenerasi WarnaPas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Masalah perputaran personil selalu menjadi isu utama bagi <em>WarnaPas<\/em>. Hal itu yang selalu membuat band ini harus selalu memutar otak untuk mendapatkan personil baru. <em>WarnaPas<\/em> sendiri sudah berdiri sejak 2002 dan sudah melalui pergantian personil lebih dari sekali. Hal ini dikarenakan masa hukuman personil yang tidak sama dan juga ada kemungkinan perpindahan lapas yang sering terjadi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini terkadang dapat membuat warna musik <em>WarnaPas<\/em> berubah. Misalnya saja vokalis terdahulu memiliki aliran <em>rock<\/em> dan selalu membawakan lagu <em>Jamrud<\/em>, namun sekarang berganti menjadi lebih <em>soft<\/em> dan beraliran <em>pop<\/em>. Permasalahan pelik terjadi ketika mereka tidak dapat mencari pengganti yang serupa dan akhirnya harus merancang kembali struktur <em>WarnaPas<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya mereka harus mengadakan audisi dan rekrutmen yang dilakukan untuk mencari bakat yang potensial. Hal itu menjadikan <em>WarnaPas<\/em> berlapis-lapis, setiap blok bisa memiliki band sendiri dengan nama <em>WarnaPas<\/em>. Band-band yang diusung tiap blok itu akhirnya akan diseleksi untuk mengisi tempat utama di <em>WarnaPas<\/em> untuk mengisi event-event tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Semuanya Sama Rata<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><em>WarnaPas<\/em> sebagai band yang terikat institusi pemasyarakatan tanpa disangka telah menorehkan banyak prestasi dalam event-event tersebut. <em>WarnaPas<\/em> sempat menjadi pemenang dalam event Lapas Wanita dan Anak Sukamiskin juga sempat mengisi parade di sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak hanya terbatas dalam event pemasyarakatan internal saja. <em>WarnaPas<\/em> pernah mengisi event Badan Narkotika Nasional (BNN) yang diselenggarakan di luar Lapas seperti di berbagai SMK di Bandung. Mereka tetap mendapatkan pengawalan, namun apresiasi yang di dapat di sana sangat luar biasa. \u201cLumayanlah apresiasinya, padahal mereka gatau kita penjahat\u201d ujar Asep, Pembina <em>WarnaPas<\/em>, seketika seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.<\/p>\n\n\n\n<p>Prestasi-prestasi tersebut bukan lain merupakan hasil kerjasama yang baik antara warga binaan dan pembina-pembinanya. Sandy mengatakan semua orang disini bekerja sama seperti tidak ada sekat di antara mereka. Bahkan mereka juga sering berlatih dengan para sipir lain yang mempunyai bakat musik ketika sedang mengisi waktu.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini dibenarkan oleh Muchtar, salah satu pembina <em>WarnaPas<\/em>. Menurutnya sekalipun mereka memiliki batasan sipir-warga binaan, tetapi tujuan utama dari pembinaan ini adalah \u201cmemanusiakan manusia\u201d. Tambahnya, setiap warga binaan juga memiliki hak dan kewajiban. Mereka mempunyai hak untuk menyalurkan segala bakat dan mengikuti segala kegiatan yang meningkatkan keterampilan mereka, namun mereka juga masih mempunyai kewajiban mengikuti tata aturan di sana \u201cGak ada beda kasus apapun semuanya sama, cuma kita memperlakukannya kaya saudara,\u201d katanya saat ditemui, Sabtu, (19\/03).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perlu Wadah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Namun salah satu yang paling dikhawatirkan oleh para pembina <em>WarnaPas<\/em> adalah tidak tersedianya wadah bagi personil yang telah hengkang dan keluar dari Lapas Waru. \u201cGak jarang mereka keluar jadi pengamen lagi, kalau disini eventnya di panggung-panggung di sana mereka event di jalanan,\u201d ucap Asep.<\/p>\n\n\n\n<p>Batasan yang terjadi juga dikarenakan perijinan yang sulit. Mereka tidak dapat mengikuti acara di luar seperti band-band lain. Padahal dilihat dari segi kualitas <em>WarnaPas<\/em> perlu diacungi jempol. Dalam lomba mengarang lagu pun mereka dapat menuntaskannya dalam 2 minggu saja.<\/p>\n\n\n\n<p>Muchtar menambahkan seharusnya pembinaan pemasyarakatan itu tidak terhenti di Lapas saja. Pemerintah harusnya melanjutkan pembinaan itu dengan menyediakan wadah bagi warga binaan yang telah ke luar untuk berkreasi. \u201cMereka itu masuk ke sini kadang karena masalah perut, pemerintah harus punya tindak lanjutnya, saya yakin penjara bakal sepi,\u201d pungkas Muchtar. Namun kadangkala personil yang telah keluar pun selain telah sibuk dengan kegiatan masing-masing, mereka juga masih sering menyempatkan untuk menjenguk teman-temannya di <em>WarnaPas<\/em>. Tak jarang mereka juga menawarkan bantuan ketika ada perlombaan atau <em>event-event<\/em> di luar. Berbagai kedekatan inilah yang akhirnya mengikat tali persaudaraan di <em>WarnaPas<\/em> sehingga menjadi berwarna-warni.<\/p>\n\n\n\n<p>(RAP)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bandung, Di balik sebuah gerbang besar dan pengawasan ketat sipir-sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kebon Waru Bandung. Tidak ada yang menyangka bahwa dari sana muncul sebuah geliat kreativitas yang menghasilkan warna-warni musik. Mungkin orang-orang akan beranggapan bahwa di tempat seperti Lapas Waru hanya akan ada kekakuan, aturan, dan hal-hal berbau pengekangan. Apalagi ditambah paradigma sebuah instansi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[],"class_list":["post-1814","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-karya-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1814","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1814"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1814\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1816,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1814\/revisions\/1816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1814"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1814"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1814"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}