{"id":978,"date":"2017-04-08T04:25:46","date_gmt":"2017-04-08T04:25:46","guid":{"rendered":"http:\/\/ikom.upi.edu\/?p=978"},"modified":"2017-09-20T07:11:39","modified_gmt":"2017-09-20T07:11:39","slug":"teater-dan-semedi-kaum-urban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ikom.upi.edu\/?p=978","title":{"rendered":"Teater dan \u201cSemedi\u201d Kaum Urban"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/ikom.upi.edu\/?attachment_id=1031\" rel=\"attachment wp-att-1031\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1031\" src=\"http:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/ccl.jpg\" alt=\"ccl\" width=\"730\" height=\"487\" srcset=\"https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/ccl.jpg 730w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/ccl-600x400.jpg 600w, https:\/\/ikom.upi.edu\/wp-content\/uploads\/2017\/04\/ccl-300x200.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 730px) 100vw, 730px\" \/><\/a>Ladang terbuka tempat bermain, perlahan-lahan terkikis oleh bangunan beton. Jalanan berdebu, telah menjadi jalanan semen yang menutup rapat rerumputan. Lintasan roda mobil-mobilan, telah menjadi lintasan angkutan kota dengan dibangunnya terminal. Kenang Iman Soleh (49), mengingat kondisi 1972- 1975 silam. Ia sebagai penduduk asli Ledeng, merasakan secara langsung pembangunan yang pesat kala itu.<\/p>\n<p>\u201cTerminal telah menjadi tempat dimana setiap orang asing datang. Termasuk juga Perguruan Tinggi yang banyak di antaranya menerima mahasiswa pendatang ke Bandung.\u201d Ucapnya gelisah. Ketika itu, ia masih menempuh jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dalam pikirannya, berkecamuk segala kecemasan. Ia takut, masyarakat tempatnya tinggal, akan terlena dan melupakan nilai-nilai hidupnya sendiri.<\/p>\n<p>Iman, mempunyai latar belakang teater yang kental sejak belia. Dari teater ia mengetahui banyak hal. \u201cMelalui teater, nilai-nilai tentang makna hidup dapat dipelajari dan diajarkan\u201d, ucapnya. Namun, ia melihat bahwa hampir seluruh teater di Indonesia, baginya tidak pernah dewasa. Banyak orang yang menyukai teater, namun mereka hilir mudik meninggalkannya setelah lulus sekolah. Karena teater hanya sebatas ekstrakulikuler.<\/p>\n<p>Ia lebih menyukai keberadaan teater di luar institusi pendidikan formal. \u201cKelompok teater di luar sekolah akan lebih terpelihara karena adanya kesadaran yang lebih tulus\u201d, selorohnya. Selain itu, teater juga akan mudah dimengerti makhsudnya dan tidak terpecah bentuk-bentuknya. Ia mencontohkan kelompok teater yang fenomenal ketika itu adalah Bengkel Rendra. \u201cYang di luar sekolah itu, lebih terbaca\u201d, imbuhnya.<\/p>\n<p>Kala itu, ia juga pernah merasakan seperti menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri. Itu ketika, masyarakat di tempatnya tinggal bahkan tidak tahu apa itu teater. Ia sering mendengar pertanyaan, <em>\u201cAri Iman teh kerjanya naon? Ai teater teh tukang ngabodor?\u201d<\/em>, Ingat Iman kala itu. Sakit hatinya itu, kemudian ia tekadkan agar tidak menjadi terasing dari rumah dan masyarakatnya sendiri.<\/p>\n<p><strong>\u201cRumah\u201d Teater bernama CCL<\/strong><\/p>\n<p>Ia kemudian terinspirasi untuk membuat sebuah \u2018rumah\u2019 teaternya. Maka, halaman depan rumahnya itulah yang menurutnya paling cocok. Biarpun sangat sederhana, tapi karena itulah jadi bisa lebih dekat dengan masyarakat. \u201cTidak bernama teater, tapi sebuah komunitas\u201d, cetusnya sambil menyeruput kopi hitam di cangkir yang ia genggam. Karena baginya, orang yang masuk teater tidak semuanya bercita-cita menjadi pemain teater. Ada orang sastra, seni rupa, dan musik. Pada saat itulah, lahir komunitas yang ia beri nama Celah-celah Langit (CCL). \u201cPertemuan sastrawan, pelukis juga pemusik seperti Harry Rusli yang sering <em>nangkring<\/em> di sini, kemudian membuat CCL tumbuh dan terus berkembang\u201d, ucapnya sambil terkekeh.<\/p>\n<p>\u201cCCL tumbuh tidak hanya beranjak dari teater saja, tapi lebih pada bagaimana <em>cross-culture<\/em> dan <em>transculture<\/em>\u201d, ucapnya. Dari situ, kelompok kesenian bisa menampilkan kegiatan diskusi hingga pertunjukkan. Kedua hal tersebut, di antaranya untuk bisa menumbuhkan sikap saling memahami, mengerti, dan menghayati keberagaman. \u201cCCL juga mengajarkan ilmu tentang hidup\u201d, imbuh Fuad (22), seniman yang sering mendampingi Iman di CCL.<\/p>\n<p>\u201cSaya jarang sekali melihat kelompok teater yang <em>nanggap<\/em> teater\u201d, Ujar Iman. Biasanya yang ia jumpai, kelompok teater umumnya hanya produksi teater saja. Tidak menyelenggarakan penampilan teater kelompok lain. Hal itu, beda dengan yang ia temui di Negara- negara yang pernah ia kunjungi di berbagai belahan dunia. \u201cItu saya temukan, setelah saya ke beberapa tempat, bukan hanya di Indonesia, tapi di dunia\u201d, pungkasnya.<\/p>\n<p>Bukan hal mudah, menjalankan CCL dari massa ke massa. \u201cPada zaman orde baru, naskah pementasan harus diberikan ke Keamanan dan Ketertiban Nasional (Kamtibnas), lalu ke Polsek, Tentara, dan juga Polisi\u201d, tuturnya. Belum lagi, ketika pementasan, juga masih harus diawasi oleh inteligen yang siap siaga di lokasi. \u201c<em>Adeuh<\/em>, repotnya pada zaman itu\u201d, ia menimpali. Kala itu, organisasi-organisasi seperti CCL disebut sebagai Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) yang dianggap \u2018kekiri-kirian\u2019. Maka teater saat itu, dianggap berbahaya. Sehingga, jarang sekali <em>mentas<\/em> bahkan dilarang.<\/p>\n<p>Seiring berjalannya waktu, keberadaan CCL semakin diterima dan dekat dengan masyarakat. Berbeda dengan komunitas-komunitas teater yang berada di jalur institusi pendidikan, CCL lebih memilih untuk hadir di tengah-tengah masyarakat tanpa sekat dan dibiarkan begitu adanya. Karena itulah, penonton yang mampu dihadirkan CCL pun juga lebih beragam dari berbagai elemen masyarakat. \u201cSiapapun boleh ikut. Termasuk seperti saya warga biasa yang tidak mempunyai latar belakang teater sama sekali\u201d, ucap Tari (23), warga sekitar Ledeng.<\/p>\n<p>Membaca penonton, adalah hal yang ingin dilakukan CCL. Yaitu menonton penonton. \u201cKetika menonton penonton, penonton itu paling jujur. Istilahnya orang awam itu paling jujur dalam menilai. Seperti anak-anak yang polos\u201d, pungkas Iman. Ketika telah berada di tengah masyakarat, menurutnya tidak boleh mengalinasi diri dari mereka. \u201cKita bersatu saja dengan masyarakat, jangan mentang-mentang seniman atau apa malah menjauhkan diri\u201d, tegasnya.<\/p>\n<p>\u201cTeater hanya sebuah alat. Tapi pemikiran dan pesan lah yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat\u201d, ucap Iman dengan muka wajah yang lebih serius dari sebelumnya. Ia mengatakan bahwa penampilan, akting, bentuk pertunjukan, musik atau\u00a0 segala macamnya itu sudah selesai pada saat pertunjukan usai. Tapi ketika penonton telah pulang ke rumah, yang kemudian penting baginya adalah pesan yang disampaikannya diterima masyarakat. \u201cMisalkan pertunjukan tanah, maka masyarakat setelah teater itu selesai harus lebih menghargai tanah\u201d, imbuhnya.<\/p>\n<p><strong>Membangunkan \u201cSemedi\u201d Kaum Urban<\/strong><\/p>\n<p>Di tengah hiruk pikuk kaum urban, satu sama lain adalah layaknya orang asing. Mungkin kita mengenal beberapa di antara mereka. Namun, ketika sudah di dalam angkutan umum atau ruang publik, kita seakan saling \u2018bersemedi\u2019. Ada yang sedang membuka <em>smartphone<\/em>, <em>chatting<\/em>, update sosial media, main <em>games<\/em>, <em>sok<\/em> memeriksa catatan agenda, atau apalah. Kita sibuk dengan diri kita masing-masing, yang enggan ditanya dan tidak mau diganggu. Seperti itulah cara kita \u2018semedi\u2019 ala kaum urban.<\/p>\n<p>Sadar, bahwa sekarang kita berada di bawah sirkuit kaum urban, dengan segala <em>tetek bengek<\/em> kesibukan. CCL asuhan Iman soleh ini, seakan hadir sebagai oase untuk menyadarkan masyarakat dari \u2018semedi\u2019 nya. Jangan sampai, akibat terlalu lama \u2018semedi\u2019, nantinya akan mengubah diri menjadi \u2018batu\u2019. Yaitu kaum urban yang lupa punya nurani sebagai manusia. Lupa, bahwa kita diciptakan sebagai makhluk sosial, karena acuh terhadap sekitar. Maka, teater dapat dijadikan sebagai ruang ekspresi dan interaksi untuk membangunkan kaum urban dari \u2018semedi\u2019nya.<\/p>\n<p>Sosiolog Siti Komariah, menuturkan bahwa Ia sangat berbangga hati dan mengapresiasi, jika ada orang-orang yang dengan keikhlasan berjuang untuk masyarakat. \u201cSaya berbangga hati dan bahagia kepada CCL, yang seperti istilah itu, <em>back to nature<\/em>, artinya mau membawa masyarakat untuk kembali kepada makna hidup sesungguhnya\u201d, ucapnya.<\/p>\n<p>Bagi Siti, secara naluriah memang setiap orang membutuhkan interaksi dan berkelompok sebagai makhluk sosial. \u201cInteraksi itu, syaratnya harus ada kontak dan komunikasi. Dan untuk melanggengkan interaksi tersebut, sebuah komunitas misalnya harus mempunyai kesamaan pandangan dan tujuan yang ingin dicapai bersama\u201d, terangnya.<\/p>\n<p>Ia juga berharap, bahwa CCL mampu memberikan dampak positif dengan mengajarkan kembali nilai-nilai kehidupan di masyarakat. Caranya dengan kesenian yang mereka lakukan. Sehingga, generasi bangsa ini terpanggil untuk belajar budaya-budaya milik sendiri yang sudah perlahan-lahan tergerus modernisasi, dan juga agar mampu mendekatkan kehidupan nyata masyarakat sesungguhnya.<\/p>\n<p>***Nurul Nur Azizah, mahasiswa Departemen\u00a0Ilmu Komunikasi 2013.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ladang terbuka tempat bermain, perlahan-lahan terkikis oleh bangunan beton. Jalanan berdebu, telah menjadi jalanan semen yang menutup rapat rerumputan. Lintasan roda mobil-mobilan, telah menjadi lintasan angkutan kota dengan dibangunnya terminal. Kenang Iman Soleh (49), mengingat kondisi 1972- 1975 silam. Ia sebagai penduduk asli Ledeng, merasakan secara langsung pembangunan yang pesat kala itu. \u201cTerminal telah menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-978","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bertita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/978","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=978"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/978\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1032,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/978\/revisions\/1032"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=978"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=978"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ikom.upi.edu\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=978"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}