Sebuah Kisah Asin Manis Supir Damri

 

Pak Sofian bersama mobil damri yang sudah menemaninya dalam mengecapi asin manisnya kehidupan di jalan raya.

 

Senyuman merupakan salah satu bentuk dari ibadah yang paling mudah dilakukan, seperti kata pepatah  “senyum itu ibadah”. Ya, memang benar bahwa senyuman mampu meluluhkan segalanya,seperti yang tersirat dari raut seorang pria yang berumur lebih dari setengah abad, Pak Haji adalah panggilan dari rekan rekannya untuk menggambarkan sosok Ahmad Sofian yang terkenal religius dan ramah terhadap setiap orang. Pria kelahiran Jakarta, 26 Januari 1968 ini berprofesi sebagai supir damri . Sudah puluhan tahun profesi ini dijalaninya, namun dengan hati ikhlas beliau tetap menggeluti profesinya dengan sepenuh hati.

“Sebenarnya kalo pekerjaan dilaksanakan dengan ikhlas dan enjoy tidak ada masalah meskipun kita jadi sopir atau kondektur atau pekerjaan lainnya ringan aja enjoy” ujar Pak Haji.

1988 menjadi tahun dimana ia mulai menggeluti profesi yang berkaitan dengan damri, pada tahun ini Pak Haji mengawali karirnya sebagai kondektur lalu 17 tahun terakhir berubah haluan menjadi seorang sopir. 32 tahun tentunya bukan waktu yang sebentar dan pastinya banyak sekali pengalaman yang mewarnai perjalanan karirnya. Perhatian dari para penumpang ,seperti memberi minum lalu sekedar memberi permen sudah sangat membahagiakan ditambah lagi senyum,canda dan tawa yang diperlihatkan oleh penumpang menjadi semangat untuk Pak Haji dalam menjalani profesinya sehari hari. “kalo lagi narik terus liat penumpang matanya keliatan kalo mereka bahagia bapak jadi suka inget keluarga apalagi sama anak di rumah” ujar Pak Haji dengan raut wajahnya yang sumringah.

“kalo kita ikhlas mah yang dirasa berat juga gak akan kerasa dek” . Senyuman dan keikhlasan merupakan kombinasi yang cocok untuk menciptakan mantra sihir untuk menumbuhkan semangat ditengah kalutnya rutinitas sehari hari. Pernah suatu kali Pak Haji mengalami peristuwa yang kurang mengenakan antar sesama sopir sampai hampir terjadi perkelahian , namun Pak Haji juga tidak terlalu meladeni hal tersebut . “pernah ada insiden dengan supir lain sama angkutan lain. Terus sampai ngotot ngajak gelut, tapi ya gausah diladeni cukup senyum aja yang penting kita mah lancar jalan yang penting kita mah kerja” . Api harus dibalas dengan air agar padam, jika api dibalas dengan api maka akan bertambah besar. Kira kira seperti inilah gambaran sikap yang ditunjukan oleh Pak Haji dalam mengatasi insiden tersebut, banyak hikmah yang bisa kita peroleh dan contoh dari sikapnya dalam tetap sabar dalam mengahapi sebuah permasalahan.

Keluarga adalah hal yang paling utama, keluarga adalah yang nomer satu, keluarga adalah rumah tempat kita berteduh dan keluarga merupakan harta yang paling berharga. Semua perasaan sedih dan senang kita lalui bersama keluarga. Tidak terkecuali Pak Haji, ia mengorbankan waktunya bersama keluarga demi bisa menafkahi dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya. “Kerja jadi supir damri kadang-kadang suka ninggalin anak kerja pagi-pagi banget gabisa main dulu sama anak yang paling kecil terus pas saya pulang anak sudah tidur. Sedih kadang, tapi ya namanya juga kerja cari uang buat anak istri. Tapi liat anak istri bisa makan layak juga alhamdulillah cape saya terbayarkan lah ya istilahnya” ujar Pak Haji sembari sedikit menundukan pandangannya.

Tidak jauh berbeda, Pak Roni juga menceritakan segelintir pengalamannya sebagai Time Keeper atau Timer. Pria kelahiran Garut tanggal 2 Maret 1959 itu mengatakan bahwa kunci dari semangatnya adalah ikhlas dan sabar. Berbeda dengan Pak Haji yang murah senyum, Pak Roni tampak lebih sedikit tersenyum dan sikapnya terlihat lebih tegas. Namun saat berbicara dan mengobrol ,sikap ramahnya terlihat.

Timer sendiri berbeda dengan sopir, timer itu bertugas untuk mengatur interval berangkatnya satu bus damri dengan bus lainnya agar jadwal berjalan sesuai dengan semestinya.Pak Roni sendiri baru menggeluti profesi sebagai timer ini sejak 2 tahun yang lalu karena pada awalnya ia berprofesi sebagai kondektur bus. Pak Roni sendiri sangat menikmati pekerjaannya sebagai timer, karena ia bisa bekerja sambil bersantai di warung kopi andalannya. Lebih lama bekerja sebagai kondektur bus , membuat Pak Roni kadang merasa rindu akan pekerjaan terdahulunya. “Kalo jadi kondektur teh senengnya tiap hari ketemu orang orang baru gitu, walaupun gakenal sama orang orang itu tapi liatnya seneng aja, gak tau kenapa, kadang mah suka pengen lagi balik jadi kondektur” ujar Pak Roni. Tidak pernah sekalipun terbesit di pikiran Pak Roni untuk meninggalkan pekerjaan ini karena ia sendiri sudah merasa bahwa damri itu merupakan bagian di dalam hidupnya . Tampangnya yang sedikit garang tidak mampu menutupi raut wajahnya yang sumringah ketika berbicara dan berbagi cerita tentang pekerjaannya. Sembari menghisap sebatang rokok , ia kemudian menceritakan pengalamannya saat sedang bertugas. “banyak sih dek kejadian yang lucu gitu misalnya bus gak sampe ke tujuan pantesan ditungguin gaada ,terus ada bus nya yang supirnya kecapean terus penumpangnya di over ke bus belakang, menurut saya itu kaya cukup konyol gitu , banyaklah kejadian kejadian kaya gitu mah”.

Satu senyum yang hangat itu berarti seperti seribu kebaikan , hal itulah yang patut dicontoh dari sikap Pak Haji yang selalu menebar impresi yang baik kepada semua orang . Kita juga bisa mencontoh sikap dari Pak Roni yang terlihat tegas diluarnya  namun sangat ramah. Kedua orang tersebut mengajarkan kita bahwa ternyata hal kecil bisa membawa dampak yang besar seperti keikhlasan yang membuat mereka tetap semangat untuk menjalani aktivitasnya sehari hari.

 

*SM/RP*

Language