PERJALANAN HIDUP SEORANG PEROQY

Seorang laki-laki berjenggot lebat duduk dengan tenang di ruang tamu Pesantren Bekam Ruqyah Center (BRC), Bandung. Ia menggunakan koko berwarna putih dengan sedikit paduan warna coklat di sekitar leher kokonya, kontras dengan atasan, ia menggunakan celana bahan warna hitam. Romli Bahari namanya, ia merupakan salah satu ustadz di pesantren ini. Kini menjabat sebagai kepala divisi pesantren sekaligus mengurusi klinik ruqyah di BRC. Laki-laki asal Cililin ini telah mengabdikan diri dalam aktivitas mengajar, bekam, dan ruqyah sejak tahun 2010. Berawal dari pelatihan reguler BRC angkatan ke-6.

Ruqyah merupakan suatu metode pengobatan yang dikenal masyarakat. Hal ini disebabkan adanya stasiun TV yang mengangkat metode penyembuhan ruqyah kedalam salah satu tayangannya. Meski awalnya menjadi kontroversi, lambat-laun masyarakat lebih menerima metode ruqyah. Ada pun perdebatan beberapa ulama, hingga kini tidak menyetujui adanya ruqyah. Sebagian mereka menilai adanya perbedaan tipis antara syirik dan ruqyah.

Ust. Romli adalah salah satu penggiat agama yang meyakini bahwa ruqyah boleh dilakukan dalam Islam. Dengan logat sunda, Ia memaparkan bahwa terdapat dua jenis ruqyah. Ruqyah syar’i dan ruqyah syirkiyah yang menggunakan jin. Menurutnya, kemusyrikan tidak akan terjadi jika mengedepankan ilmu tauhid sebagai landasan. Hal ini ia terapkan saat mengajar para santri. Membedakan ilmu tauhid dan ilmu jin terlebih dahulu, sesuai dengan tagline BRC, “Murnikan Tauhid Basmi Kemusyrikan.”

Ust. Romli telah menggeluti aktivitas bekam dan ruqyah selama delapan tahun. Ia banyak membantu orang-orang yang diganggu jin. Kegiatan ini Ia awali  dengan meyakini hadits dari Rasulullah SAW, tentang Al-Quran sebagai penyembuh segala penyakit. Kemudian mulai Ust. Romli belajar ajaran Syaikh Wahid Abdusallam Bali, seorang ulama besar dari Mesir.

Kala itu, nadanya meyakinkan kami. “Syaikh Wahid Abdusallam Bali merupakan ulama pertama yang membuktikanpengobatan metode ruqyah” ujarnya.Beliau juga mengatakan bahwa “ruqyah tidak hanya menyembuhkan penyakit non-medis atau tidak masuk di akal, metode ini terbukti mampu  menyembuhkan penyakit medis”. Sehingga menyebabkan para dokter di Mesir belajar pula ilmu ruqyah.

Meski BRC berfokus kepada bekam, tapi Ust. Romli tetap melakukan ruqyah jika ada pasien yang memang membutuhkan.Dalam proses ruqyah ia berusaha membuat pasien tetap sadar tanpa mengalami proses kesurupan. Hal ini disebabkan Ia lebih banyak mengobrol berselip dakwah tauhid kepada pasien. Tujuannya agar yakin untuk berserah diri kepada Allah dan tidak takut dengan jin yang ada. “Ada beberapa peroqy yang selalu mengharapkan saat mengobati pasien mengalami kesurupan sehingga jika pasien belum mengalami kesurupan mereka beranggapan bahwa pengobatan tersebut belum berhasil,” katanya.

Sebagai seorang peroqy, sebutan bagi seorang peruqyah, Ust. Romli mengaku bahwa peruqyah tidak dapat melihat jin. Mereka hanya mampu merasakan keberadaan jin tersebut. Jika seorang peroqy dapat melihat jin, maka yang dilakukannya bukan ruqyah syar’iyah, melainkan syirkiyah yang bekerjasama dengan jin lain.   

Ust. Romli selalu menekankan kepada para anak didiknya untuk jangan selalu menyimpulkan sebuah penyakit non-medis sebagai akibat dari gangguan jin. Sudah seharusnya sebagai seorang peroqy mencari tahu lebih dalam tentang penyakit apa yang pasien alami. Dengarkan keluhan pasien, lalu jangan membuat pasien semakin ketakutan akan penyakit yang dideritanya. “Karena tidak semua yang datang terkena gangguan jin dan harus diruqyah. Terkadang yang datang haya memiliki penyakit psikis. Sehingga penting untuk mendalami ilmu tentang jin secara mendalam.”, tuturnya.

Menjadi mentor bagi para anak didiknya untuk mengajarkan ruqyah tidaklah mudah bagi Ust. Romli.Lika-liku perjalanan hidup sebagai peroqy telah dilaluinya dengan berbagai rintangan yang menghalangi.Mulai dari menghadapi kontroversi tentang ruqyah, hingga perjalanan menyembuhkan pasiennya.

“Ketika saya bisa menyembuhkan pasien, itu adalah sebuah kebahagiaan bagi saya karena saya ikhlas untuk membantu sesama umat.Saya tidak pernah ingin untuk menerima imbalan dari keluarga pasien ataupun dari pasien itu sendiri tetapi mau tidak mau saya harus menghargai pemberian tersebut” ucap Ust.Romli.

Sebelum kebahagiaan itu menghampiri, Ust. Romli selalu teringat ketika ada hal terberat yang mungkin ia harus lakukan, yaitu ketika harus meninggalkan orangtuanya.Ia meminta izin untuk mengikuti pelatihan sebagai seorang peroqy. Walau Restu tak dibekali materi, perjalanan Ust. Romli ini memang tak ingin menyusahkan orangtuanya. Bekal sungguh apa adanya. Biaya pendaftaran untuk mengikuti pelatihan diberi pas-pasan saja.Sampai saat ini yang bisa menjadikan Ust. Romli sebagai seorang peroqy hingga saat ini.

Suka duka menjadi seorang peroqy pun sudah dilewati oleh Ust.Romli.Pada saat Ust. Romli baru menjadi seorang peroqy,Ia menerima panggilan tugas untuk menyembuhkan pasien di suatu daerah yang sangat jauh yaitu Kota Pekalongan. Selama perjalanan, beliau selalu gelisah karena beliau tahu akan menghadapi seorang pasien yang memiliki masalah rumit dan cukup berat.

Tetapi hanya satu yang selalu beliau tanamkan, yaitu meminta perlindungan kepada Allah SWT.Agar setiap perjalanan dan kegiatan yang beliau lakukan dilancarkan, untuk bisa membantu sesama umat.Karena kebahagiaan yang sesungguhnya bagi seorang Ust.Romli bukanlah mendapatkan sebuah imbalan, tetapi bisa membantu sesama umat untuk menyelsaikan masalahnya.

(AS & SM)

Language