ANTARA IBU RUMAH TANGGA DAN ISTRI ABDI NEGARA

Menikah dan menjadi seorang istri sekaligus ibu bukanlah suatu hal yang mudah. Ditambah memiliki “status” yang membuat seseorang harus menanggung dan memiliki jalannya sendiri untuk bertahan dan berjuang dengan cara serta pengalaman yang berbeda dari kehidupan sebagian orang. Istri abdi negara, sebuah status yang memiliki makna dalam dan perjuangan yang tidak mudah dibaliknya. Hal ini dirasakan oleh Retno Indraningrum, ibu rumah tangga sekaligus istri yang mendampingi seorang anggota POLRI yang sudah bertugas selama 28 tahun. Beliau lahir di Sukabumi pada tanggal 10 September 1974. Namun, sejak kecil beliau sudah sering berpindah-pindah mengikuti tugas ayahnya yang juga anggota POLRI. Mulai dari Bali, Lampung hingga Timor-Timur sudah pernah dipijak olehnya. Meski berasal dari keluarga polisi, ia tidak menyangka akan menikahi seseorang yang berasal dari instansi yang sama dengan ayahnya. Akhirnya ibu berusia 45 tahun ini menikah di Lampung, tempat suaminya bertugas pada tahun 1998, saat beliau sedang melanjutkan studi dari D3 ke S1 Manajemen Universitas Padjajaran di tahun pertama.

Menikah di usia 24 tahun adalah keputusan yang harus diambil atas permintaan orang tuanya yang tidak memperbolehkan beliau terlalu lama menerima niat baik dari calon suaminya pada saat itu dan melahirkan anak pertama satu tahun setelahnya. Meski sudah memiliki tanggung jawab sebagai istri dan ibu, beliau tetap meneruskan studinya di Bandung hingga berhasil mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi. Dibalik keberhasilannya, ia harus bisa membagi waktu antara mengurus bayi di rumah dan kegiatan kuliahnya termasuk kelas di malam hari. Beliau biasanya meminta bantuan kepada sepupunya untuk menjaga anaknya di rumah saat ada kegiatan kuliah dan langsung pulang saat kegiatannya sudah selesai. Semuanya ia lakukan demi menyelesaikan studinya namun tetap menjadi ibu yang bertanggung jawab.

Kesehariannya sebagai ibu rumah tangga hanya membersihkan rumah, menyiapkan makanan, berkebun, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Memang, beliau tidak diizinkan oleh suaminya untuk bekerja atau mencari uang karena ingin istrinya fokus mendidik dan menjaga anak-anaknya di rumah. Sebagai seorang Sarjana Ekonomi, ibu dua anak ini merasa tidak ada ilmu yang sia-sia meski status sarjananya tidak digunakan untuk berkarier atau mencari uang. Beliau berpendapat bahwa setiap ilmu yang didapatnya pasti bisa bermanfaat untuk mendidik anak-anak, membangun rumah tangga, bermasyarakat, dan sebagainya.

Selain mengurus keluarga, beliau juga memiliki kewajiban lain setelah menikah dengan anggota POLRI yaitu otomatis bergabung dalam organisasi istri-istri polisi, Bhayangkari. Kegiatan-kegiatan Bhayangkari yang berfokus pada kegiatan sosial dan kebudayaan dilakukannya secara otodidak mengikuti Petunjuk Pelaksanaan, mengingat beliau tidak memiliki pengalaman berorganisasi semasa sekolah ataupun kuliah. Jabatan yang didapat dalam organisasi ini disesuaikan dengan jabatan suami, dan pada periode lalu beliau menjabat sebagai Ketua Seksi Urusan Budaya serta berhasil melakukan program-program kerja yang bermanfaat. Namun, memiliki kegiatan seperti ini membuat fokusnya pada urusan rumah dan anak-anak beliau sedikit terganggu terutama saat hari-hari besar beliau harus menyiapkan berbagai acara karena dituntut aktif di organisasi karena jabatan suami. Saat ini beliau tidak aktif di Bhayangkari karena suami beliau sedang melanjutkan studi untuk jenjang karier yang lebih tinggi. Jika nanti suaminya sudah menyelesaikan studi dan menjabat lagi di suatu daerah, saat itulah beliau diwajibkan untuk aktif berorganisasi kembali.

“Sebagai istri polisi atau anggota Bhayangkari, kami harus selalu siap mendampingi suami kemanapun dia ditugaskan”, ucap ibu yang memiliki dua anak ini. Berkaca dari pengalaman masa kecilnya, ia bisa menebak situasi yang akan dihadapi setiap suaminya berpindah tugas. Tidak mudah baginya untuk tidak menetap di suatu daerah, terutama jika sudah mengenal orang-orangnya dan harus beradaptasi dalam waktu yang lama. Kesulitan beradaptasi juga dirasakan oleh beliau, mengingat Indonesia adalah negara yang memiliki adat dan budaya yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Namun, beliau selalu berusaha untuk mengerti dan menghormati budaya lain agar tidak terjadi kesalahpahaman. Selain itu, memberikan pengertian kepada anak-anaknya untuk pindah sekolah dan tempat tinggal tidak bisa dibilang mudah. Apalagi jika suami atau anak-anaknya terpaksa harus tinggal terpisah pada beberapa kesempatan. Walau nampak kesedihan pada raut wajahnya karena larut dalam kisahnya, beliau menyiratkan senyuman saat menceritakan hal berharga yang ia dapat selama menjadi istri abdi negara.

Beliau bisa merasakan beberapa perbedaan antara menjadi istri abdi negara dengan istri warga sipil dalam konteks tanggung jawab selain mengurus rumah tangga dan pengalaman yang didapatkan. Beliau merasa pengalaman menjadi istri abdi negara jauh lebih banyak dalam kehidupan, kebudayaan, berorganisasi, hingga berhubungan dengan masyarakat sekitar karena istri abdi negara harus menjaga nama baik dan status keluarga, menjaga etika hingga cara berpakaian, mendampingi suami kemanapun ia bertugas dan harus tinggal di beberapa daerah yang berbeda adat dan budaya. “Sebagai istri anggota POLRI ada suka dan dukanya, tapi banyak sukanya. Tergantung bagaimana kita menjalani kehidupan dengan ikhlas, menjalani tugas sebagai istri dan ibu dengan ikhlas juga. Selain itu saya bisa mendapat kenangan dan pengalaman hidup yang berharga, lebih bervariasi dan lebih banyak daripada orang lain yang tidak mengalami pengalaman seperti ini. Bisa bergaul dengan banyak orang, menambah teman, mengenal berbagai macam budaya, serta banyak ilmu”, ucap ibu yang hobi berkebun ini. Dalam letihnya ia harus membagi waktu antara kegiatan organisasi dengan mengurus anak. Beliau berprinsip yang penting apa yang ditugaskan oleh pimpinan harus diselesaikan, apabila ada urusan dengan keluarga atau anak beliau tetap bertanggung jawab dengan meminta izin sebentar lalu kembali ke kewajibannya di kantor.

Dari cerita yang dibagi oleh Ibu Retno, kita bisa merasakan pahit dan manis yang dirasakan beliau selama menjadi istri abdi negara. Beliau berpesan kepada generasi muda untuk menggunakan kesempatan di umur yang masih muda agar lebih banyak menggali ilmu dan mencari pengalaman serta berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi sesama dan negara terutama bagi diri sendiri dan keluarga. Prestasi yang dicapai di masa muda akan menjadi bekal di masa depan, karena kehidupan saat masih muda akan sangat berbeda jika sudah memasuki tahap berkeluarga. Beliau juga berharap agar selalu diberi kesehatan, panjang umur, bisa melihat anak-anaknya sukses dan dapat tetap dapat mendampingi suami dalam meraih jabatan dan karier yang baik di kepolisian sampai saatnya nanti pensiun.

Language