Jalan Setapa di Cibadak, Surga Kuliner Mmalam yang Merakyat

Kota Bandung alias kota kembang memang tidak pernah kehabisan ruang untuk dijadikan tempat berwisata bagi para pelancong. Seperti yang kita ketahui, Kota Bandung memiliki banyak sekali sudut-sudut unik nan nyentrik yang bisa dijadikan destinasi berkunjung bagi siapapun yang ingin memanjakan diri. Sebut saja daerah kawasan jalan Braga dan Asia-Afrika yang tidak pernah seharipun kehabisan pengunjung. Jalan braga dengan keunikan bangunan dan keberagaman gaya hidup yang disajikan, mampu menarik perhatian siapapun untuk menyambangi tiap-tiap ruas jalanannya. Tak jauh dari braga, Asia-afrika di malam hari juga memiliki daya tariknya sendiri. Hal unik tak kalah menarik di kawasan sepanjang jalan Asia-Afrika adalah kehidupan malamnya yang mampu menciptakan suasana magis penuh misteri. Tentu saja karena adanya cosplay hantu paling kreatif  di Bandung yang menjadi icon paling ciamik di kawasan ini.

Lain halnya dengan kehidupan malam di Braga dan Asia afrika, bagi para pelancong yang ingin menghabiskan waktunya untuk menyantap aneka ragam masakan di malam hari, Cibadak Culinary Night dapat menjadi pilihan utama. Dinamakan Cibadak tentu saja karena lokasinya yang berada di sepanjang Jalan Cibadak. Cibadak Culinary Night terkenal akan keberagaman masakannya yang menawarkan suasana kuliner terbuka serta merakyat.

Dalam rembang senja ketika kami mengunjungi tempat tersebut, kami disuguhi pemandangan tak biasa yang menghiasi ruas-ruas jalanan daerah ini. Saat sampai, penglihatan kami dimanjakan oleh puluhan bahkan ratusan lampu-lampu kecil penuh warna yang menggantung di udara, membuat hati siapapun terkesima olehnya. Wisata kuliner malam ini bukan hanya sekadar wisata malam biasa. Kami dibuat terkesima oleh tatanan tempat yang lazimnya hanya tempat perdagangan makanan biasa. Tentu bukan Bandung namanya jika tidak bisa menyulap suatu tempat menjadi sesuatu yang unik dan anti monoton, sekalipun hanya tempat makan dan singgah sementara. Hati siapapun akan senang tatkala disambut oleh indahnya lampu-lambu pelangi yang menghiasi langit malam. Senja pun berlalu, kami terus menelusuri tiap sudut jalanan untuk menilik lebih jauh apa saja yang membuat tempat ini begitu berkesan di hati setiap pengunjung.

Jalan cibadak boleh jadi hanya sekadar jalanan biasa di siang hari. Namun saat matahari mulai terbenam dan langit mulai menunjukkan gelapnya, ruas-ruas jalanan akan segera dipenuhi pedagang kaki empat dan resto murah tak kalah sedap. Siapa sangka, jajanan rakyat ramah di kantong ini selama bertahun-tahun tak pernah kehilangan pengunjung setianya. Sebab siapa bisa menyangkal keseruan dan kenikmatan yang didapat saat berkunjung ke tempat ini. Kawasan daerah Cibadak menyeru senandung kebebasan di malam hari, tempat berkumpulnya raga-raga yang letih, lesu, dan juga lapar. Jalan Cibadak bukan hanya jalanan yang ditempati puluhan pedagang malam saja. Lebih dari itu, merupakan suatu tempat yang berkisah banyak cerita tentang riangnya kehidupan, sambil menyantap hidangan malam.

Soal rasa dan selera tak perlu ditanya. Berbagai jenis makanan dengan cita rasa oriental dan lokal semua tersedia di sini. Lokasinya yang tak jauh dari wisata kuliner Sudirman Street membuat Cibadak kulinary night memiliki sedikit impresi yang serupa dengannya. Masakan yang dijajakan pedagang hampir sama dengan masakan-masakan yang berada di sudirman street, yaitu masakan khas oriental yang cocok bagi para pecinta olahan daging babi. Eitsss tapi jangan salah dulu, di Cibadak Culinary Night, kita gak cuma menemui daging babi saja. Banyak makanan lainnya yang halal, yang bisa dinikmati semua kalangan. Menu masakan yang dijajakan di Cibadak ini bisa dibilang accepting banget terhadap ragam kebudayaan. Dari mulai pork-lovers sampai halal-lovers semua hadir di sini. Penjual makanan halal biasanya menempelkan cap bertanda halal dengan tulisan arab untuk meyakinkan pengunjung yang tidak dapat mengonsumsi olahan daging babi. Berburu makanan di sini tentu sangat seru, bukan?.

Bila manusia dapat memiliki banyak kepribadian, maka tak lain halnya dengan Jalan Cibadak ini. Dalam satu hari Cibadak dapat berganti wajah. Waktu terbenam dan terbitnya benda langit menjadi awal berubahnya wajah dan suasana di jalanan ini. Saat matahari masih berkuasa dan debu dirasakan di mana-mana, sepanjang jalan cibadak hanyalah deretan toko-toko kelontong biasa. Saat berjalan di tengah teriknya matahari kita hanya akan mendapati pedagang biasa yang menjajakan barang-barangnya sembari menunggu pengunjung datang. Tak ada hal istimewa selain gaya bangunannya yang terbilang sudah kuno dan tua. Saat menelusuri deretan bangunan-bangunan tua ini, kita akan terbahwa pada hembusan memori yang bahkan tidak pernah dimiliki. Yang tua memang selalu mengingatkan kita betapa berartinya menghargai waktu.

Matahari redup, bulan menutup biru, bintang pun berhambur seru.  Hari berganti menjadi gelap. Walaupun senja adalah saat paling cantik, malam harus juga tiba. Cibadak Culinary Night mulai dipenuhi pedagang-pedagang kaki lima, dibarengi dengan dibukanya resto-resto yang sama nikmatnya. Suasana jalan cibadak kini berubah. Pribadi aslinya yang lain kini mulai terlihat. Ia menampakkan sisi lain dari sekadar toko-toko kelontong biasa. Sisi sentimental dari sebuah bangunan tua mulai larut dalam padatnya jajaran pedagang malam. Jalan Cibadak kini mulai hidup, tidak membosankan dan lebih memberi warna. Hingar bingar kota Bandung di bawah langit yang sudah gelap akan sangat terasa di sepanjang ruas jalan ini.

Ribuan pengunjung mulai memadati jalanan. Berseliweran, mencari santapan untuk makan malam. Di bawah kerlap-kerlipnya lampu yang mengudara, dengan dinginnya angin malam, menyantap makanan di sini akan terasa begitu istimewa.

R.A /S.J