Pahlawan di Tengah Sekolah Daring

Seperti kata Ki Hajar Dewantara ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Sungguh tiga motivasi dari aktivis pendidikan terkenal yang dikenal lewat ketiga motivasi tersebut. Ing ngarso sung tulodho yang berarti di depan memberikan teladan, ing madyo mangun karso yang artinya di tengah-tengah dapat memberikan semangat, dan tut wuri handayani yang mempunyai arti di belakang mendorong. Pastinya sebagian masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan tokoh yang akan dibahas setelah membaca beberapa kalimat di atas. Guru, sebuah profesi yang sangat penting namun masih tidak dihargai oleh beberapa kalangan masyarakat.

Kata beberapa orang, guru itu ujung tombak dari sebuah bangsa. Mengapa? Karena kemajuan sebuah bangsa biasanya ditentukan oleh kemampuan pendidik mengubah karakter anak muda bangsa dan menanamkan nilai-nilai yang lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Kata beberapa orang juga, guru itu adalah sosok pahlawan tanpa jasa. Kok bisa? Iya, masih banyak yang salah paham dengan kalimat pahlawan tanpa jasa sehingga guru jarang sekali diberikan apresiasi yang lebih. Sungguh ironis? Memang. Begitulah kondisi pahlawan tanpa jasa di negeri ini, masih sering diabaikan dan tidak dianggap penting. Upah mereka saja tidak ada setengahnya dari upah-upah para wakil rakyat.

Virus Covid 19 yang sudah menjadi pandemi global mengakibatkan sistem belajar dari tatap muka berpindah menggunakan media daring. Hal ini diupayakan oleh pemerintah supaya mata rantai virus ini dapat diberantas dengan membuat sistem pembelajaran jarak jauh atau yang dikenal dengan learning from home. Oleh karena itu, Kementrian Pendidikan dan Budaya atau KEMENDIKBUD memerintahkan seluruh instansi pendidikan agar mengubah silabus pendidikan ke dalam media daring yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Lingga Setyagusti yang bekerja di SMK 1 Pasundan Bandung merupakan salah satu dari sekian banyak tenaga pendidik yang terkena dampak dari pandemi Covid 19. Lingga berkata bahwa banyak sekali kerugian yang dirasakan selama pandemi ini. Pertama, beliau merasa bahwa guru dan siswa tidak bisa melakukan interaksi secara langsung, padahal interaksi secara langsung adalah kunci untuk guru bisa melihat apakah siswa tersebut sudah bosan, semangat, atau sedang melamun. Kedua, guru tidak bisa menguji apakah siswa mengerti dengan materi yang disampaikan atau tidak karena jika diberikan ulangan, guru tidak bisa memantau secara langsung kejujuran dari setiap siswa. Ketiga, pembelajaran jadi tidak efektif karena terkadang ada siswa yang tidak mempunyai kuota memadai, terkadang dari guru yang sudah tergolong lansia tidak mengerti bagaimana caranya menggunakan media daring seperti ini, terkadang dari siswa juga banyak akal agar terlihat hadir padahal sedang melakukan kegiatan yang lain.

Hal ini sesuai dengan apa yang diilustrasikan oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi bahwa tidak semua guru tinggal di dalam ruangan yang nyaman, mampu membeli perabot rumah tangga yang indah, punya cukup waktu dan uang untuk membeli kuota internet, punya waktu leluasa untuk mengajar secara online, tinggal dalam lingkungan yang nyaman, dan memiliki penghasilan yang cukup. Namun, disaat seluruh elemen pekerjaan terkecuai garda terdepan seperti tenaga medis merasakan pengurangan jam kerja, guru merasakan sebaliknya. Selesai mengajar secara daring, guru akan segera menyiapkan bahan ajar untuk keesokan hari dan memeriksa seluruh pekerjaan anak muridnya.

Meskipun terjadi pandemi ini, guru harus bisa menyesuaikan diri dengan merubah silabus tatap muka menjadi daring seperti apa yang dikatakan Lingga. Guru yang menyiapkan semuanya sendiri, mengatur ulang strategi pembelajaran dan menyiapkan kelas daring. Tidak heran bukan kalau guru disebut sebagai pahlawan tanpa jasa? “Guru itu pahlawan yang ada ‘di belakang’, dimana banyak orang tidak sadar bahwa guru pun memberikan kontribusi dalam banyak hal. Tetapi memang tidak mengharapkan apa-apa, tulus mendidik anak bangsa untuk memajukan bangsa dan negara. Kalau menurut saya seperti itu sih maksa pahlawan tanpa tanda jasa, banyak rekan saya yang meskipun upah per bulannya hanya sepuluh persen dari Upah Minimum Regional (UMR) tetapi mereka masih tetap semangat mendidik siswanya untuk menjadi lebih baik”.

Menjadi seorang guru merupakan keputusan yang sangat berat karena tugas utama seorang guru adalah mendidik anak bangsa agar bisa memajukan bangsa Indonesia di kemudian harinya. Walaupun mereka seringkali dianggap tidak ada, mereka tidak perduli. “Untuk siswa-siswi, kalian tahu kan situasi sedang seperti ini? Meskipun situasinya seperti ini kalian harus tetap semangat belajar, jangan malas karena kalau malas nanti kalian akan kesulitan saat ujian. Tetap jaga kesehatan dan juga jangan panik karena pandemi,” tutur Lingga untuk seluruh murid Indonesia. Teruntuk para guru dan tenaga pendidik di Indonesia, meskipun lelahmu tidak menjadikanmu terkenal dibandingkan dengan konten tidak berbobot lainnya, akan tetapi pekerjaan yang engkau emban setiap harinya amatlah vital dan sangat berharga bagi seluruh anak bangsa Indonesia. Terima kasih banyak, pahlawan tanpa jasa.

(BB)

Language