KISAH BAHRUL ILMI, SUPIR AMBULANS COVID-19 : PAHLAWAN YANG TERLUPAKAN

Bahrul Ilmi seorang laki-laki kelahiran Indramayu, 29 Mei 1987 yang kini tengah berjuang menjadi tenaga medis pemegang kendali setir ambulan covid-19, sebelum ada pandemic Bharul Ilmi bekerja sebagai pekerja honorer supir ambulan puskemas yang seringkali mengantar warga desa yang membutuhkan jasanya karena statusnya sebagai pekerja honorer ia memiliki gaji yang terbilang kecil dan jauh dibawah UMR daerah tempatnya bekerja.

Bahrul Ilmu adalah anak pertama dari dua bersaudara, sempat terjerumus kedalam dunia remaja sekolah yang penuh dosa hingga pernikahannya yang berakhir duka menjadi catatan kelam bagi pribadi dirinya. Sempat bekerja sebagai pegamai minimarket ketika lulus sekolah lalu mengundurkan diri karena keinginan istrinya menjadi titik awal perceraian dengan istrinya dan hak anaknya pun kini menjadi milik istrinya. Pada saaat itu Bahrul Ilmi mengalami kesulitan ekonomi dan depresi oleh istrinya. Sempat diberikan modal oleh pamannya untuk membangun bisnis bengkel didepan rumahnya akan tetapi hal itu belum bisa mengangkat pribadinya menjadi lebih baik, bengkel yang sepi dan peralatan yang beliau gunakan untuk kepentingan pribadi dirinya bersama teman temannya sehingga hal itu menambah kerugian bisnis bengkel yang ia jalankan. Ayahnya yang seorang pensiunan guru itu banyak digunakan untuk membiayai adiknya yang bersekolah diluar kota, sehingga cuman menunggu panggilan bekerja dari orang-orang sekitar yang ia lakukan, seperti membenarkan atap rumah yang bocor atau memperbaiki tembok yang rumah yang rusak itu juga tidak setiap hari ia lakukan. Pada tahun 2018 tetangganya seorang perawat yang bekerja di salah satu puskesmas didaerah tersebut meminta jasanya untuk menjadi supir ambulan puskesmas, meski bukan pekerjaan dengan gaji besar Bahrul Ilmi menerima itu setidaknya untuk makan sehari-harinya bisa ia biayai sendiri. Hampir setiap hari Bahrul Ilmi menjemput ibu-ibu yang akan melahirkan untuk diantar ke bidan atau rumah sakit terkait. Harus tetap siaga pagi siang malamnya karena bisa saja sewaktu-waktu ia diminta untuk menyupir ambulan, banyak orang-orang di daeranya yang meminta bantuan Bahrul Ilmi karena tidak ada pemungutan biaya berbeda dengan ambulan yang berada di rumah sakit yang biasanya dipungut biaya yang cukup besar. Bahrul Ilmi pun menyadari hal ini namun dia berdalih kalau dirinya tidak bisa meminta biaya besar karena kebanyakan orang yang dibantunya bukanlah orang-orang dengan ekonomi yang tinggi melainkan sebaliknya.

            Pada bulan maret Indonesia dinyatakan mengalami pandemic covid-19, banyak tenaga medis yang dibutuhkan tidak terkecuali supir ambulans Bahrul Ilmi pun ikut menjadi salah satu tim didaerahnya untuk menangani kasus demikian. Pemerintah juga mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk mengatasi kasus pandemic ini, rumah sakit pun mendapatkan imbalan atas dana tersebut, satu pasien dihargai anggaran puluhan juta. Namun hal tersebut nampaknya tidak terlalu terdampak karena anggaran atau honor yang didapatkan Bahrul Ilmi tidak sebesar uang jajan anak Sekolah selama satu bulan. Penggunaan APD yang terbatas dan seringkali berdampingan langsung dengan pasien covid-19 hingga mayat menjadi tantangan bahkan ketakutan tersendiri bagi Bahrul Ilmi. Tetapi berkat kebaikan yang seringkali ia lakukan diluar hal tersebut ia kerap kali mendapatkan upah dari kepala puskesmas baik berupa uang ataupun makanan meskipun jumlahnya tidak banyak namun hal itu tetap ia syukuri dan seringkali ia bagi bersama keluarga dirumahnya. Karena tugasnya sebagai supir ambulans yang tidak ada jam kerja tetap sehingga ia kerapkali pulang hingga tengah malam atau malah sebaliknya ketika tengah malam ada yang meminta bantuanya karena hal-hal darurat.             Bahrul Ilmi suka mengalami kesedihan dan kekesalan terhadap orang yang tidak mematuhi apa yang dianjurkan pemerintah dalam mencegah virus ini karena jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi seperti banyaknya masyarakat yang mengalami gejala covid-19 hingga dinyatakan positif ia harus mengantarkan ke rumah sakit rujukan terdekat atau yang sampai meninggal dunia ia yang mengantarkan dari rumah sakit hingga pemakaman. Rasa cape dan letih suka ia alami tatkala dalam satu hari banyak yang ia antar baik pasien covid-19 ataupun hal lainnya yang menuntu ia harus menyetir mobil hingga bermil-mil jauhnya. Ingin sesekali ia merasa ingin beristirahat terlebih dahulu namun ia juga sadar bahwa hal ini bukanlah kasus pandemic yang mudah untuk diatasi, oleh karena itu selain menjalankan tugasnya sebagai supir ambulan Bahrul Ilmi juga seringkali memberi sosialisasi kemasyarakat didaerahnya baik itu secara kelembagaan atau pribadinya karena ia yakin dari hal tersebut masyarakat bisa tersadar dan kasus pandemic ini bisa cepat selesai. Selain dari pada itu kini ucapan doa dan rasa bersyukur yang ia terus lakukan sehingga menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

(RS)

Language