Belajar Bersyukur Melalui Anak Spesial

Anak berkebutuhan khusus, terkadang dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tidak banyak yang berpikir bahwa mereka sama dengan kita dan terkadang malah merendahkannya. Daripada menghargai perbedaan, orang-orang lebih senang melakukan diskriminasi dan merundung mereka. Namun berbeda dengan Karolina Ketaren. Wanita kelahiran Sukabumi, 26 tahun lalu ini, menjadikan rasa syukur serta keinginannya dalam menolong sesama sebagai motivasi untuk lebih dekat dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Bersyukur kepada Yang Maha Kuasa karena dianugerahi fisik yang sempurna serta harapan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain.

            Meskipun belum menikah ataupun memiliki kerabat yang berkebutuhan khusus, Lina sangatlah bersimpati dan tertarik dengan anak berkebutuhan khusus. Dirinya menyebut anak berkebutuhan khusus dengan sebutan anak spesial. Lina juga kagum kepada orang tua dari anak spesial yang kuat memikul beban tanggung jawab yang lebih besar dari orang tua pada umumnya. Mereka sebagai orang tua harus mengeluarkan pengorbanan lebih, baik uang maupun waktu. Dengan situasi dan kondisi orang tua yang berbeda, uang untuk melakukan tindakan mengambil jam terapi ataupun waktu dengan pananganan sendiri anak mereka, merupakan pilihan yang tidak bisa dihindarkan.

            Bu Lina, begitulah sapaan akrab para orang tua padanya. Bu Lina merupakan seorang terapis yang menangani anak-anak spesial. Profesi ini mungkin masih asing bagi sebagian orang. Namun bagi anak-anak spesial, keberadaan seorang terapis sangatlah penting. Terapis akan mengajarkan berbagai keterampilan kepada anak, salah satunya dengan terapi ABA (Applied Behaviour Analysis), seperti memahami dan mengikuti instruksi verbal, meniru gerakan dan ucapan, merespon perkataan orang lain, mengenal benda, hingga mengajarkan baca dan tulis.

            Perjalanan ini berawal dari akhir masa perkuliahannya. Suatu hari datang insprasi padanya untuk memilih anak-anak spesial untuk diteliti. Ketika terjun ke dalam dunia tersebut, dirinya merasa menjadi jadi orang yang lebih pandai bersyukur. Melihat bagaimana sulitnya mereka untuk beraktivitas, sangatlah membuat dirinya bersimpati. Begitu kurangnya kepedulian dari lingkungan sekitar, membuat hatinya pilu dan tergerak untuk mencari kesempatan membantu mereka.

            Setelah lulus pada tahun 2012 dari pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia dengan mengambil jurusan seni rupa, Lina bahkan tidak pernah berpikir akan menggeluti bidang ini sebelumnya. Jodoh takkan kemana. Peribahasa ini nampaknya tepat untuk menggambarkan bagaimamana Lina bisa masuk ke dunia anak spesial yang diidamkannya. Perjalanan didalam hidup yang mengantarkannya hingga bisa betemu kembali dengan mereka. Walaupun dirinya bukanlah lulusan dari pendidikan khusus yang menangani anak spesial, namun hal terebut tidak menyurutkan niatnya untuk belajar.

            Layaknya guru, Lina menggantikan posisi orang tua sementara begitu ada di kelas. Baginya, menjadi terapis bukan sekedar membelajarkan berhitung, membaca atau mengenalkan macam-macam, tapi juga mendidik dengan kasih sayang. Terapis merupakan jembatan anak dengan orang tua. Sebelum anak berhasil diterapi, terkadang orang tua tidak tahu bagaimana menangani anak-anak spesial. Inilah peran terapis yang harus mengajarkan berbagai hal pada anak, terutama bagaimana cara mereka berperilaku. Disaat anak membuat kesalahan, tidak seperti guru yang bisa langsung mengoreksinya, terapis haruslah menjadi sosok yang penyabar untuk  menjadi contoh dan pembimbing.

            Setelah lebih dari satu tahun menggeluti bidang ini, ternyata itu tidaklah cukup baginya untuk berpuas diri. Insan Pelangi Mandiri sebagai tempat bekerja, membuatnya menemukan dengan arti baru dalam hidup. Seiring berjalannya waktu, tumbuh keinginan untuk mengembangkan diri lebih untuk anak-anak spesial. Hal tersebut sebagai wujud dari rasa kasih sayang yang dicurahkan agar mereka nantinya bisa lebih diterima di masyarakat dengan lebih baik.

            Layaknya jalan yang berkelok-kelok, tidak semua yang kita lakukan akan berjalan mulus hingga menemukan hambatannya sendiri, begitu pun dengan yang dialami Lina. Terkadang kenyataan bahwa anak memiliki berbagai keterbatasan, membuatnya hampir menyerah dengan tidak banyaknya kemajuan yang dicapai. Namun, dirinya selalu mencoba untuk menanamkan keyakinan bahwa kesungguhan serta ketulusannya akan membawakan hasil yang diharapkan.

            Pernah sekali terbesit dalam pikirannya untuk meninggalkan dunia dimana anak-anak spesial berada. Hal tersebut diakuinya untuk mencari penghasilan lebih layak. Dirinya menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya tidak semata-mata karena rupiah yang akan dinikmati secara pribadi, tetapi juga untuk cita-citanya yang ingin membangun tempat terapinya sendiri. Menurutnya, banyak orang tua yang kesulitan dengan biaya tinggi untuk menfasilitasi anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, dirinya ingin memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Tentunya dengan biaya yang disesuaikan dengan kemampuannya masing-masing, orang tua bisa memfasilitasi anak mereka secara lebih optimal, demi tumbuh kembang yang lebih baik di tempat terapi yang akan dibangunnya kelak dengan nama “Pelita Mulia”.

            Baginya, membuat tempat terapi bukanlah ambisi, melainkan tujuan. Selain tujuan hidupnya yang ingin terus belajar, tempat terapi inilah yang akan dijadikannya sebagai penyalur ilmu sebagai sarana pendukung. Diakuinya, inilah fondasi untuk kerangka dalam membuat rumah yang utuh, yaitu bagaimana mewujudkan rasa syukur dan keinginan menolongnya. Dirinya juga menyadari bahwa masih banyak yang harus dipelajarinya karena belajar merupakan proses yang panjang dan tidak akan berhenti sepanjang hidup manusia.

            Jika bisa memutar waktu, Lina ingin mengenal dan mandalami dunia anak-anak spesial lebih awal. Dimana dirinya menemukan anak-anak spesial ini sebagai standar kebahagiaan baru didalam pekerjaannya. Betap bahagianya ketika anak yang mulai bisa memberikan respon ketika dipanggil, melakukan salam, berbicara walaupun masih terbata-bata, bahkan gerakan seperti kiss bye. Senang bisa memberikan harapan-harapan kecil serta bisa berbangga hati atas apa lakukan tidaklah sia-sia. Dirinya belajar untuk tidak menyerah dengan semua ini. Berkeyakinan bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.

            Anak spesial merupakan tabungan pengalaman, baik untuk orang tua maupun pengajar. Bagi Lina, mereka merupakan sebuah simbol yang diciptakan untuk melihat bagaimana orang sekitar merespons kelahirannya serta bagaimana cara memperlakukannya. Nyatanya, banyak dari mereka yang disia-siakan sebagai kegagalan pertanggungjawaban orang tua. Bila kita melihat anak spesial sebagai suatu simbol yang buruk serta memperlakukan mereka sebagai produk gagal, maka anak tidak akan berkembang. Semuanya bergantung kepada usaha yang diberikan orang tua.            

Menghargai perbedaan adalah tebing yang tinggi untuk masyarakat coba jangkau. Tidak peduli dengan keindahan apa yang akan dilihatnya jika mendaki tebing itu, mereka cenderung mengabaikannya. Harapan Lina adalah memberikan tali siapa pun yang ingin mencapainya. Namun tetap saja semua berawal dari keinginan orang-orang untuk memegang tali tersebut. Semua ini tentang kita. Tali sebagai sebuah pengetahuan yang bisa mengedukasi masyarakat, tidaklah berarti jika tidak ada yang ingin menggenggamnya. Keinginan terdalam Lina adalah memiliki kesempatan untuk memberitahukan kepada orang-orang disekitar mengenai anak-anak spesial sehingga mereka mengerti dan timbul rasa saling menyayangi. Terlepas dari kenyataan yang harus dihadapi anak-anak spesial, Lina sendiri berharap, suatu hari nanti anak-anak spesial akan menemukan tempatnya dan bisa diterima di masyarakat layaknya anak pada umunya.

Language